Kopiss, dan Tentang Perjalanan 3 Perempuan: Resensi Novel

DSCN3957

Judul : Kopiss
Penulis : Miko Santoso
Penerbit : Diva Press
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : Pertama
Editor : Aya Sophia
ISBN: 139786022960010
Jumlah halaman: 280

Sempatkah terbesit dalam benakmu, apa hal besar yang ingin sekali kamu lakukan dalam hidupmu, sebelum usiamu berhenti?

Barangkali itulah tema yang tersirat dalam novel berjudul Kopiss yang baru selesai saya baca ini. Kopiss, karya Miko Santoso, bercerita tentang perjalanan hidup 3 wanita dari latar belakang yang berbeda. Qiana, Gili, dan Onne. Ketiganya bertemu dan tinggal bersama di rumah milik Qiana.

Qiana Sitta adalah gadis asal dari Jakarta dan hanya memiliki kakak bernama Mbak Aya. Sepeninggal ayahnya, ia diserahi rumah di Bintaro Jaya. Tak mau jadi beban kakaknya, akhirnya ia mengatasi hidupnya sendiri dengan menyewakan sebagian rumah tersebut untuk kost-kostan. Dari sanalah, ia bertemu Gili dan Onne. Di balik penampilannya yang tomboy, Qiana sebetulnya mengalami ketidakpercayaan diri, terlebih di hadapan Zydna, teman masa kecil yang disukainya. Sebelum itu Zydna lebih menyukai Mbak Aya. Karena Mbak Aya menolak karena ingin menikah dengan pria lain, Zydna tampak mendekati Qiana. Namun belum sempat mengutarakan perasaan, Zydna keburu menikah dengan seorang janda karena permintaan ibunya. Hal itu membuat Qiana patah hati dan sulit move on.

Gili Virani, adalah gadis rajin beretnis Sunda. Ia bersekolah di STAN, yang tidak jauh dari tempat kostnya. Karena suatu masalah, akhirnya ia di-DO. Namun cita-citanya yang sesungguhnya memang bukan di sana. Dengan segala obsesinya tentang kopi dan bermimpi untuk sukses menjadi barista. Ia juga bekerja di sebuah kafe bernama Kafe Liwa yang memberikannya banyak pengalaman mengenai kafe dan kopi. Namun hidup rupanya tidak berjalan mulus. Ia jatuh cinta dengan Shilo, seorang duda keren pemilik kafe tersebut di tengah proses perceraiannya. Sialnya, pascaperceraian Shilo, Kafe Liwa justru jatuh ke tangan mantan istrinya. Gili bimbang karena dengan begitu berarti masa depan mereka pun buram. Tidak hanya itu, orang tua Gili pun tidak setuju karena mereka berbeda keyakinan.

Sementara Onne Narindra, gadis asal Malang-Jatim yang mengejar impian menjadi penulis. Ia datang dari keluarga yang kurang harmonis. Ibunya sudah lama meninggal, ayahnya tidak care, sedangkan kakak-kakaknya egois. Terbukti ketika mereka menyabotase hak warisan Onne demi kepentingan pribadi setelah ayah mereka meninggal. Onne pun harus memikirkan hidupnya sendiri secara mandiri dengan bekerja sebagai PNS di samping harus terus mencari identitas, namun senyatanya ia tak bisa meneruskan ketika suatu hal membuatnya berhenti dari pekerjaannya, dengan imbas pada masalah membayar denda dengan jumlah yang tidak sedikit.

Menghadapi berbagai masalah itu, ketiganya selalu saling ada dan menjadi sahabat karib yang selalu saling menguatkan. Kebersamaan dan perasaan senasib terlihat ketika mengunjungi makam ayah Onne, mereka tersadar, hingga terbesit dalam benak mereka untuk meraih yang paling diinginkan selama masih berkesempatan hidup.

Being happy with enough money is not the way I want to die. There’s more to life.” –Onne, halaman 193

Lalu bagaimana akhir kisah Qiana setelah Hanum, istri Zydna, malah menawarinya menjadi istri kedua? Ending cerita Gili setelah di-DO dan ceritanya dengan Shilo, juga akhir kisah Onne yang harus memikirkan bagaimana caranya mengembalikan kondisi keuangannya setelah membayar denda pasca dikeluarkan dari lembaga pemerintahan? Setiap kesulitan memang selalu dilengkapi jalan keluar. Roda Kopiss pun dikendalikan oleh mereka, Gili dalam hal meracik kopi, Qiana yang gigih, juga Onne yang tak menyerah, dan juga Syam, adik Zydna yang rela membantu mereka dari nol, serta Sherafina, barista berbakat yang semula saingan Gili di hadapan Shilo, mau berusaha menyelamatkan bisnis Kafe Kopiss.

Kopiss sendiri adalah nama sebuah kafe milik ketiga gadis tersebut, yang ada karena dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi sekaligus mimpi-mimpi ketiga gadis itu yang ingin diraih. Ketiganya berkolaborasi mendirikan dan mempertahankan Kopiss yang sering mengalami kembang kempis. Namun bagi mereka mengenal kopi seperti mengenal hidup. Ada pahit, manis, asam, hambar, dan kadang penuh kejutan. Juga hal-hal yang tidak bisa dinominalkan dengan rupiah.

Novel ini menggunakan sudut pandang Qiana, meski demikian ia tidak menjadi satu-satunya tokoh utama. Sisi menarik dari novel ini menurut saya penggambaran keseharian tiga wanita dengan cara sederhana, menggunakan bahasa yang ringan, kadang menggunakan perumpamaan, dan diselipi humor. Begitu juga dengan cover buku yang juga dibuat simpel dari bentuk dan warnanya tapi tetap menarik. Novel ini dari awal seperti bercerita tentang kehidupan sehari-hari dengan alur campuran tidak terkesan datar. Kopiss menceritakan dengan apik mengenai awal berdirinya kafe dan jatuh bangun sebuah kafe, tentang proses menjalankan bisnis kafe, juga tentang kopi itu sendiri yang ternyata punya karakter masing-masing sehingga membutuhkan cara pengolahan dan peracikan yang beragam pula. Penjelasan tentang kopi dalam novel Kopiss cukup lengkap yang tentunya telah melewati masa riset.

Karakter tokoh-tokohnya digambarkan dengan cukup baik, dengan 3 wanita memiliki kekhasan sendiri-sendiri, hanya sedikit kurang wanita:D, dilihat dari obrolan, candaan, dan interaksi dengan perempuan lain yang terkesan agak maskulin. Tapi tak mengapa, karena barangkali penulis sengaja menggambarkan karakter perempuan tangguh dan sedikit tomboy, meski ada beberapa yang kurang sesuai dalam hal penggambaran emosi, misalnya seperti ketika Gili menceritakan temannya yang meninggal karena dicampur nuansa humor yang sepertinya kurang pas untuk menggambarkan kesedihan Gili.

Namun, ada beberapa kekurangan dalam novel ini yang masih bisa disempurnakan lagi. Misalnya pada margin yang sepertinya kurang rapi dan terlalu mepet ke pinggir. Juga beberapa typo dan kesalahan eja. Meski demikian, tak mengapa karena memang tidak ada karya yang sempurna dan kesalahan yang sedikit itu tak terlalu mempengaruhi jalan cerita. Terlebih penjabaran setting tempat yang diceritakan oleh penulis cukup baik. Meski di awal-awal tampak seperti monoton namun endingnya menarik dan membuat pembaca bebas mengimajikan sendiri akhir kisah Qiana. Juga quote-quote di dalamnya dapat dijadikan motivasi.

Selamat membaca.

“Hidup itu memang seperti meniti tangga masalah. Setiap pendakian baru berarti masalah baru. Kita tidak bisa benar-benar lepas dari tangga itu.” halaman 243

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s