Resensi Novel Angela

DSCN3952

Judul : Angela, Semoga Waktu Tak Hapuskan Ingatanku Tentangmu
Penulis : Hardy Zhu
Penerbit : deTeens
Tahun Terbit : September 2014
Cetakan : Pertama
Editor : ItaNov_
ISBN: 9786022790594
hlm: 173

 

Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang Angela, mahasiswi semester awal di sebuah universitas ternama di Unida. Acara reuni SMP yang ia datanginya bersama Gifty, sahabat kentalnya, mampu mengubah hidupnya. Ia bertemu dengan Sandy di acara tersebut. Yang membuatnya terkejut adalah penampilan Sandy sekarang yang sudah berbeda dari ketika masih SMP. Bila dulu ia tipis dan hitam seperti tripleks (halaman 19) :D, kini menjelma jadi cowok tampan yang membuat para cewek meliriknya. Terlebih ia telah sukses dengan bisnisnya.  Sandy begitu baik dan perhatian, bahkan sejak masih sama-sama di bangku SMP sikapnya tak berubah, alias selalu “tersedia” untuk Angela. Apalagi Gifty, salah satu orang yang tahu bahwa Sandy menyukainya, selalu mendukung mereka supaya jadian.

Di sisi lain, Angela malah sedang terpesona akut dengan penulis teenlit favoritnya, Azka. Berawal dari tak sengaja ia mengambil novel tersebut dari rak buku karena buru-buru ke kampus, tahunya ia jadi ngefans. Berkali-kali ia mencoba berinteraksi dan menarik perhatian si penulis dengan mention-mentionan di Twitter. Tentu saja berkah baginya ketika berhasil bertemu dengan si penulis, bahkan sempat diminta untuk menemaninya riset novel berikutnya ketika si penulis datang ke kotanya. Namun sial karena Sandy selalu punya alasan untuk menggagalkan pertemuan mereka. Baik dengan cara paling sederhana sampai paling ekstreem. Namun pada akhirnya terungkap alasan mengapa semua hal ini terjadi.

Belum sempat novel ini didaftarkan di currently-reading atau to read di akun Goodreads saya, ia sudah selesai terbaca karena saking asyiknya menikmati jalan cerita aja. Saya memang bukan penggemar teelit selama 8 tahunan ini. Tepatnya sejak tahu semakin lama teenlit, terutama yang bernuansa romansemakin tidak jelas bentuk dan arahnya, telebih setelah kecampuran film sinteron dan film televisi dengan persoalan yang cenderung kurang dekat dengan remaja bahkan jarang mengandung bobot untuk dibaca semua kalangan dan menghibur meski tetap santun. Tapi sekian lama saya menghindari jenis teenlit, kecuali demi pekerjaan, saya kok merasa seperti menemukan teenlit yang kembali menemukan celah seperti semula ketika membaca novel Angela ini. Memang idenya sederhana dan bukan tidak pernah diangkat. Hanya saja unsur meremaja, kepolosan, kelucuan, diksi, kelogisan cerita hingga gaya bahasa dan alur yang lincah terbaca dari novel ini, yang membuatnya berbeda dengan teenlit era kini. Terlebih banyak teenlit yang isinya seperti mengampanyekan kehidupan hedonis yang justru mengkhawatirkan ketimbang menginspirasi. Tapi denger-denger kondisi itu tak berlangsung lama dengan maraknya renovasi teenlit, yang menghadirkan kisah remaja yang tidak klise dan pesan moral yang baik dari sana serta sudah digarap lebih serius, sehingga bila ke toko buku untuk membelinya, kita mesti selektif menemukan jenis yang ‘serius’ itu.

Teenlit memang tidak melulu mengeksplore gaya hidup remaja yang sarat pacaran dan hura-hura. Justru bila dikemas dengan tepat, teenleit sebagai jembatan mereka, khususnya remaja, yang tidak suka baca menuju terbuka dengan bacaan.

Seperti pada konsep novel Angela, yang meskipun tema adalah cinta dan persahabatan. Pembaca akan menemukan sendiri bagaimana kedua hal itu hadir dengan caranya sendiri di kehidupan remaja juga tentang bagaimana menyesaikan konflik-konflik ala remaja. Sejak saya membaca serial Lupus, Olga, Princes Diary, Dialova, More Than Love (yang malah nggak bisa dibilang teenlit meski tokohnya remaja SMA), kemudian fakum selama 8 tahunan, dan mesti baca lagi sejak 2012 untuk berbagai alasan. Meskipun sudah terlalu dewasa untuk membaca teenlit, saya nggak nyesel baca Angela.

Kelebihan lain dari novel ini adalah tidak ada unsur pergaulan bebas di mana ciuman, pelukan, dan sebagainya menjadi kewajaran seperti teenlit kebanyakan. Gaya bahasanya sederhana dan mudah dimengerti, juga menggunakan aku-kamu yang sesuai setting lokasi, sebagai sikap menentang kebiasaan teenlit harus “lo-gue”, yang semestinya lebih cocok dengan pergaulan ala Jakarta-Betawi. Novel ini juga lebih banyak menggambarkan hubungan persahabatan, kegelisahan ala remaja ketika masuk pada level ngefans terhadap sesuatu, juga tentang pekerjaan partime beserta segala persoalan yang dekat dengan remaja.

Settingnya dijabarkan cukup baik, dengan gambaran suasana dan juga detail melalui sudut pandang Angel terhadap hal-hal yang dihadapnya.

Kekurangannya? Tentu ada. Namun hanya sedikti saja, misal tokoh Angel sebagai sentral lengkap dengan ciri khas fisik, cara berpikir, hingga kesukannya, membuat jalan ceritanya hanya tentang sisi Angela. Sehingga tokoh-tokoh lain seperti Gifty agak terpinggir, Sandy, dan juga Azka (si penulis) kurang tereksplore. Selain itu endingnya juga terlalu cepat juga agak bisa ditebak ^^, mestinya novel ini dapat digarap lebih baik lagi tanpa dibatasi jumlah halamannya. Tapi tak mengapa, menurut saya Angela sudah tampil dengan oke. Juga cover yang cukup mudah menarik perhatian dengan warna pink tua serta memiliki ukuran font yang nyaman dibaca. Tapi sepertinya mesti hati-hati dengan bagian buku yang dijilid, sebab dua lembar terakhir buku ini tiba-tiba lepas, hehe. Tapi tenang saja, sudah saya lem lagi:p

Teenlit yang memang disajikan sebagai cermin kehidupan perkotaan ini memang tentang remaja, tapi bisa dibaca kalangan dewasa muda kok. Untuk para remaja, ini recommended deh;)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s