Surat dari Negeri Senja

Hai, A.

Tatkala kutulis ini, aku berharap engkau selalu baik-baik saja. Sedang apa kau di sana? Bagaimana perasaanmu hari ini?

Apakah engkau masih setia dengan kebiasaanmu, menatap jendela setiap bangun pagi yang selalu kesiangan, membuat kopi dengan campuran kayu manis bubuk dan creamer nabati setiap pagi dan sore hari, membaca bertumpuk buku sampai matamu pedas dan berkantung, juga sesekali berbicara pada burung gereja yang gemar mengujungi atap rumah?

A, aku paham engkau sulit berdamai dengan keresahan yang dalam-dalam engkau sembunyikan dan memilih berlari pada kesunyian. Seperti kapas yang rapuh. Bagimu, hidup sering kali bagai lorong gelap tak bercahaya. Atau bunyi kereta yang sebentar lagi hilang dengan sendirinya. Pendiammu itu keterlaluan, A. Aku bahkan sering sekali kehabisan akal untuk sekadar menyapamu.

Ingatkah puisi Subagio Sastrowardoyo yang kita baca bersama dulu A?

Tugasku hanya menterjemah
gerak daun yang tergantung
di ranting yang letih. Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi. Ketika daun
jatuh tak ada titik darah. Tapi
di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih

Melalui surat ini, A, aku ingin mengatakan bahwa aku mau menemanimu berbicara. Aku ingin mendengarmu bercerita. Jangan risaukan kelak, ataupun luka yang datang dari masa lalu. Temuilah kebebasanmu, setidaknya untuk mengakui keresahanmu. Engkau tak sendiri.
Kau harus sadari.

Sesekali waktu engkau berbisik memanggil peri-peri yang kau percaya dapat membawa pergi kesedihan, berharap mereka datang, seperti cerita dongeng kesukaanmu kala usamu masih kanak-kanak. Setiap malam engkau berbisik pada embun dan dingin. Dan setiap itu kau lakukan, hanya angin yang menjawabmu. Rindukah engkau hidup normal seperti yang seharusnya? Jangan tanya mengapa aku tahu semua itu.

Aku bahkan tahu kau selalu menyimpan ketakutan-ketakutan itu. Engkau enggan pada kehidupan. Engkau jera pada harapanmu sendiri. Engkau khawatir ketika mulia melangkah, kau lupa jalan kembali. Engkau takut tatkala mulai jatuh cinta, engkau patah lagi. Lalu akhirnya kau sering kali sembunyi pada topeng-topeng berwajah tawa.

Engkau pun takut mengakui dan membayangkan kejujuran serupa masuk ke dalam jurang, di mana hantu-hantu hutan bersarang. Namun, aku tahu engkau sebenarnya cinta pada hidup. Sebesar engkau cinta pada kematian yang rahasia.

A, ketakutan bukan hal yang salah. Ketakutan membuatmu kuat dan menemanimu menapaki waktu. Sebab kelak ketakutanmu itu menjelma keberanian yang tak kausangka akan hadir, tepat tatkala engkau memerlukan.

A, dekaplah kembali dirimu. Terima apa adanya dan jaga harapanmu. Aku yakin hidup memiliki getar yang bila engkau rasakan, ia serupa napas bagi paru-parumu. Terkadang memang kita butuh penderitaan untuk sekadar membangun imun. Sering kali engkau butuh air mata utuk memaknai tawa. Kau bahkan harus tersesat, untuk menyadari bahwa engkau mesti mencari jalan pulang dan merindukan “rumah”. Aku tahu engkau selalu memikirkan begitu banyak hal yang semestinya engkau biarkan melintas saja.

Tentu kau selalu ingat, A, Tuhan menyayangimu. Mencintai orang-orang yang terjebak dalam ketakutan dan ketakpercayaan, entah kepada dirinya sendiri atau hal-hal di luar itu. Percayalah itu, meski cinta tak selalu berupa wujud. Bukankah demikian?

Sekian suratku, A. Sampai jumpa di senja berikutnya.

diposting di web Ubud Writer Festival rubrik women of letters bertema surat tentang rahasia ketakutanku.

2 komentar di “Surat dari Negeri Senja

  1. Wah! Aku belum jadi bikin surat untuk web itu, Mpok. Apik suratmu. Btw, ntar aku mau bikin surat untuk diriku sendiri aja deh. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s