Perempuan di tengah Perang: Silent Honor, Putri dari Timur

DSCN3911

Judul: Silent Honor, Putri dari Timur
Penulis: Danielle Steel
Genre: Romance, Historical Fiction
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2004  (catakan kedua)
Jumlah halaman: 333

Shikata ga nai, yang terjadi terjadilah–168

Sudah kali kedua saya baca sejak novel ini dipinjami seorang sahabat tahun 2010 lalu. Pertama hanya saya baca sebagai selingan. Yang kedua ketika benar saya selami, rupanya ada banyak hal menarik di novel ini dan rasanya perlu dibuat review.

Novel ini bercerita tentang dua generasi. Cerita dibuka dengan pertemuan Masao dan Hademi yang dijodohkan seperti tradisi Jepang kuno pada tahun 20-an akhir. Masao berpikiran moderat, sedangkan Hademi seperti halnya wanita Jepang kebanyakan di zaman itu, konservatif, patuh dan santun. Ia bahkan tak berani menatap mata Masao sebelum menikah. Ada begitu banyak perbedaan di antaranya, namun itu tak menghalangi perasaan keduanya yang saling jatuh cinta. Meski sulit bagi Masao mengajarkan kemodernan dan kesetaraan kepada istrinya, namun Hademi tetap menghormati dan mengagumi suaminya. Meski senantiasa menyimak pemikiran Masao, ia tak  terlalu setuju dengan ide-ide itu. Konflik perbedaan itu terlihat seperti ketika Hademi merahasiakan seraya membebat perut hamilnya sampai benar-benar kelihatan pada waktunya. Di samping itu ia juga ingin melahirkan di rumah ditemani ibu dan saudaranya dan berharap melahirkan anak laki-laki, sedangkan Masao bersikeras membawanya ke rumah sakit karena ia begitu takut kehilangan Hademi dan anak mereka. Sebagai pria modern, beberapa tindakan Masao mengejutkan Hademi, seperti membantu pekerjaan domestik, menemaninya melahirkan, dan menginginkan anak perempuan.

Dan ambisi itulah yang membawa kisah mengarah pada Hiroko, tokoh utama dalam novel ini.

Tidak seperti bayangan Masao, Hiroko rupanya tumbuh seperti replika ibunya, bahkan lebih pemalu dan rapuh. Tidak seperti Yuri adik lelakinya yang mirip Masao. Hiroko terdidik dengan cara tradisonal dan selama 7 tahun, Masao dan Hidemi terus bertengkar tentang pendidikan anak-anaknya. Kedua pandangan yang berseberangan itu membuat jarak yang aneh. Sang ayah yang keukeuh, dan pada akhirnya ibunya yang demi tradisi tetap tunduk pada keputusan suami, lalu melepaskan Hiroko pergi. Hiroko pun patuh dan pergi demi menghormati sag ayah yang bahkan sudah menabung untuk mengirimnya ke Amerika, meskipun itu membuatnya merasa tercerabut dari kehidupannya yang sesunguhnya. Ia telah mencintai Jepang seperti bagian jiwanya. Tapi ia juga menghormati ayahnya.

Di sana, ia dititipkan oleh keluarga Tanaka yang masih kerabat. Keluarga Tanaka, yaitu Takeo dan Reiko, besikap baik padanya meski mereka sepenuhnya orang Amerika secara hukum, gaya hidup, dan kejiwaan.  Hiroko menjalani sekolah dan tinggal di asrama. Dari sana, kehidupan Hiroko yang sulit dimulai. Ia tak diterima di lingkungannya. Salah satu teman sekamarnya pun hanya ramah ketika di kamar, dan cuek ketika di luar. Yang satunya lagi bahkan bersikap dingin. Secara keseluruhan, warga ‘Barat’ termasuk Amerika bersikap deskriminatif terhadap bangsa kulit berwarna. Saat itu, bahkan orang Jepang ataupun setiap orang yang berasal dari “Timur” dipandang rendah dan mirip bangsa budak. Tak terkecuali Hiroko yang akhirnya lebih banyak di-bully teman-temannya dan tak diterima di lingkungan mereka. Kehidupan di sana ternyata tidak seperti harapannya. Dan moment di-bully dan tak diterima oleh semua teman sekampusnya itu cukup membuat saya ikut hanyut.

Dalam kesedihan dan keterasingannya itu, ia bertemu dengan Peter Jenkins, salah satu sahabat Takeo yang bekerja di sebuah universitas. Peter adalah orang yang mengagumi kebudayaan Jepang dan juga mencintai Hiroko sejak pertama mengenal. Kepribadian Hiroko yang rapuh membuat Peter ingin selalu mengasihi dan melindunginya. Peter-lah yang akhirnya mampu mengisi kekosonganya. Namun Tidak mudah bagi mereka bersama karena perbedaan-perbedaan itu. Terlebih sikap Hiroko yang amat pemalu, hati-hati, dan taat tradisi. Peter berumur jauh lebih tua dari Hiroko. Barangkali kedewasaan sekaligus kebosanannya terhadap perempuan modern Amerika itulah yang membuatnya ingin menghabiskan usia bersama Hiroko. Percintaan mereka mengalir lembut namun membara. Mereka bahkan sempat menyusun impian bersama dan memiliki banyak anak bila kelak dapat menikah. Namun permasalahan politik harus memisahkan mereka sebelum mimpi itu terwujud.

Tatkala Pearl Herbour diserang Jepang pada tahun 1941, posisi warga Jepang semakin terpojok. Penyerangan itu membuat warga Amerika, temasuk Kalifornia marah. Mereka melampiaskan kemarahan kepada siapa pun yang berwajah Jepang. Termasuk Hiroko yang menjadi sasaran anarkisme siswa di sekolahnya. Situasi semakin sulit. Hingga pada akhirnya masyarakat yang dinilai “Jepang” dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan harus mengungsi dari kamp pengasingan satu ke kamp pengungsian yang lain. Keluarga Tanaka yang setia dengan Amerika merasa ditolak oleh negaranya sendiri. Bersama Hiroko mereka harus menjalani hari-hari berat sebagai “warga musuh”. Hiroko yang baru saja menjalin hubungan dengan Peter pun harus terpisah jarak dan waktu. Sementara Peter justru ditugaskan bergabung dengan militer untuk menyerang Jepang.

Namun dalam kondisi sulit itu, Hiroko mampu menjalani pengasingannya dan bertahan hidup. Ia sempat turut membersihkan kandang kuda yang dijadikan kamp hingga membantu di klinik darurat ketika wabah menyerang, hingga kehilangn orang-orang yang dicintai yang pergi ke medan perang. Lebih buruk lagi, kewarganegaannya yang masih Jepang membuatnya menghadapi introgasi dan intimidasi dari militer. Meski demikian, Hiroko selalu berusaha bertahan hidup dan bahkan tidak segan untuk barakhir asal itu demi kehormatan keluarga dan martabatnya. Namun rupanya kehidupan di kamp memang cukup berat untuk dijalani, terlebih bila harus berdampingan dengan segala kesedihan dan duka.

Namun, apakah Hiroko pada akhirnya dapat bersama lagi dengan keluarganya di Jepang, dan juga Peter?

Novel Danielle Steel yang satu ini kaya dengan detail suasana pada saat Perang Dunia II dan berbagai sejarah yang mengikutinya, seperti kondisi politik dunia, kemanusiaan, dan juga cinta yang saling menguatkan. Bobot yang dilengkapkan dalam novel ini, membuatnya tak sekadar romance biasa. Kelihaian Daniel mendeskripsikan adegan dan peristiwa sering kali bikin saya nahan napas, sedih tiba-tiba, dan sekaligus penasaran karena twist-twist yang ditampilkan cukup mengejutkan. Juga tentang persahabatan yang tiba-tiba lahir karena peperangan. Di mana pun perang memang bisa merusak hubungan antarmanusia yang beragam, namun novel ini menceritakan secara tersirat bahwa di dalam kondisi tergelap pun akan tetap ada celah cahaya yang akan ditemui oleh orang-orang yang tak berputus asa.

Diwarnai dengan ketegangan yang mengalir halus dan manis, novel ini memang memiliki kemampuan untuk menarik pembaca terus mengetahui kelanjutan ceritanya sampai selesai. Hanya sayang porsi endingnya dituturkan lebih singkat ketimbang bab-bab sebelumnya. Namun itu tidak terlalu mempengaruhi bobot cerita.

Buku Danielle Steel pertama yang saya baca bersjudul Now and Forever tahun 2005 lalu, setelah saya baca Silent Honor, Putri dari Timur, saya merasa kelak mesti baca buku-buku Danielle yang lainnya. 🙂

Iklan

3 thoughts on “Perempuan di tengah Perang: Silent Honor, Putri dari Timur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s