Resensi: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Melelahkan

novel Mesopotamia

Judul: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Teramat Melelahkan
Penulis: Senja Nilasari
Tahun terbit: September 2014
Penerbit : PING!!!
Genre : Fiksi
Jumlah Halaman : 220
ISBN : 139786022960232

Novel ini berkisah tentang Oman. Seorang arsitektur asal Irak yang bekerja di Indonesia. Tatkala kembali ke rumah yang diwariskan oleh ibunya, ia menemukan sebuah sebuah buku Meet the Sumerians. Tiba-tiba saja ia terlempar ke tempat yang begitu asing yang kelak ia tahu adalah di zaman Mesopotamia. Sebagai pendatang asing bagi bangsa tersebut, ia pun dijadikan budak seorang tuan dan mengerjakan hal-hal yang tak pernah lakukan di dunia nyata, seperti merawat ternak dan menjadi pelayan. Tak berhenti sampai di situ, perjalann penuh liku membuatnya terlempar dari satu tuan ke tuan yang lainnya hingga pada akhirnya ia terlibat dalam proyek pembuatan Ziggurat Ur, salah satu ziggurat terbesar pada zaman itu. Bahkan Raja Shugi, raja yang menjadi penguasa di zaman itu, meminta Oman untuk memberikan ide dan pengalamannya sebagai arsitek. Tentu saja dengan dua dialog yang sulit saling mempercayai. Hal-hal yang berbeda yang dibawa Oman membuat mereka mengiranya alien. Bukan tidak sadar Oman sedang sedang berada di dimensi masa lalu, sebab ia masih ingat bahwa ia memiliki kehidupan yang sebenarnya. Hanya saja ia tak mengerti bagaimana keluar dari sana. Bahkan cara berada di sana pun ia tak tahu. Mimpinya seperti begitu nyata hingga membuatnya ingat kembali pengetahuan sejarah peradaban yang sudah terkubur itu. Novel ini pun diakhiri dengan serangkaian adegan yang membuat saya seperti menahan napas ingin tahu akhirnya.

Apakah Oman dapat kembali, atau menetap di peradaban Sumeria yang sudah terlanjur ia jalani?

Novel ini adalah salah satu buku kesekian bertema projek astral yang diterbitkan divapress. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahwa novel bertema astral projection dan berlatar belakang peradaban kuno selalu menampilkan alur campuran. Novel ini berlatar Irak, Indonesia, dan Sumeria pada zaman Mesopotamia. Penuturan disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga, dengan gaya bahasa mengalir ringan dan mudah dimengerti. Diksi yang dipilih oleh penulis pun sederhana dan dapat dipahami.

“Mesopotamia, Mimpi yang Panjang yang Teramat Melelahkan” ditulis oleh Senja Nilasari dan merupakan novel pertamanya yang diterbitkan. Meskipun termasuk pendatang baru, Senja sudah menulis novel ini dengan sangat baik dan tampaknya sudah melakukan riset yang cukup. Novel ini seperti ditulis dengan hati-hati, terlihat dari jalinan cerita yang lumayan logis. Meskipun tentu saja, kita tidak dapat membandingkan sebuah novel fiksi dengan fakta sejarah yang sebenarnya. Sebab bukan hanya pada kebenaran sejarah letak menariknya.

Dalam novel bertema astral projection ini, Omar menjadi tokoh utama dan memiliki porsi lebih banyak dibanding tokoh yang lain. Omar digambarkan sebagai arsitek yang tekun, pekerja keras, dan sering kali lebih mementingkan pekerjaannya. Dibuktikan bahwa ia menunda berangkat ke Irak ketika kabar kematian ibunya sampai di telinganya. Sedangkan karakter Diva yang lembut dan pasrah. Ada pula Qanitah, adik perempuan Oman yang penyabar, sedangkan ayah Omar digambarkan sebagai ayah yang diktator dan dominan. Di samping itu bangunan karakter raja yang gila kekusaaan dan para budak dan tuan berdiri sendiri-sendiri dan berhasil dijabarkan dengan tidak langsung oleh Senja. Seperti yang pernah saya baca dari penuturan seorang penulis (saya lupa namanya) bahwa kualaitas karya dapat dilihat dari apakah pembaca dapat mengimajinasikannya sendiri atau terlalu banyak diguru oleh penjelasan gamblang. Novel ini mampu memenuhi poin pertama. Membaca karya yang satu ini membuat saya ingat untuk tidak melihat buku dari penampilan luarnya. Deskripsi setting yang dibangun membuat pembaca dapat membayangkan sendiri situasi yang dipaparkan dalam alur demi alur. Unsur imajinasi dibangun cukup kuat.

Namun, hingga dua per tiga bagian novel ini masih bercerita tentang Sumeria dan kehidupan masyarakatnya, juga tentang seorang raja yang otoriter dan membanggakan diri sendiri. Di samping itu, novel Mesopotamia dibingkai cerita kehidupan realitas Omar yang sepotong-sepotong seperti masa kecil Omar yang kurang bahagia, kodisi perang hingga cerita mengenai dirinya dan Diva kekasihnya yang juga tidak banyak dieksplore. Meski demikian, novel bertema astral projection ini memenuhi totalitasnya dengan keterhubungan antarcerita, terlebih setiap tokoh memiliki peran yang masing-masing saling berpengaruh.

Hingga bagian tengah-tengah itulah, saya merasa harus sejak istirahat untuk kembali membaca ketika mud saya datang lagi. Terutama di babak sebelum Oman betemu dengan Raja Shulgi. Bukan karena ceritanya tidak menarik, tapi bagian tersebut memang agak lambat dan datar. Tapi justru agak tergesa ketika masuk di beberapa babak yang agak menegangkan. Di samping itu ada missing link di bagian ketika Diva berada di alam Oman yang lain itu. Saya juga agak penasaran dengan situasi ‘mimpi di dalam mimpi’ yang terjadi di halaman 172. Membuat saya sempat bingung sebelum ingat kembali bahwa novel ini memang hanya fiksi :p.

Dari segi penampilan buku, tidak banyak yang akan saya utarakan. Ukuran font dan halaman sudah sesuai, terlebih sudah dilengkapi footnote untuk menjelaskan istilah asing. Hanya agak mengganjal salah satunya di bagian cover. Meskipnn sudah menggambarkan tema buku, menurut saya perpaduan warnanya agak sedikit pucat sehingga bagunan ziggurat menjadi terkesan kurang tegas. Tapi itu hanya salah satu dari pandangan subjektif saya. Tapi toh, kualitas novel tidak bisa ditentukan dengan kulit. Selain itu, misalnya di halaman 196-197 terdapat penataan margin yang barangkali bagian dari kesalahan tak disengaja di mesin cetak. Ditemukan pula beberapa kesalahan eja dalam novel ini seperti di halaman 159. kata “Ke dua”, mestinya jadi “kedua” ya :), dan beberapa kesalahan tanda baca seperti di halaman 44 dan 146.

Meski demikian, novel yang lebih cocok untuk segmen young adult ini tetap menarik untuk mengisi liburan.

3 komentar di “Resensi: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Melelahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s