episode langit

Di kota kecil ini, setiap siang adalah saat di mana orang-orang angkuh terbangun untuk menggelar panggung. Telingamu akan bising oleh suara-suara yang melengking tajam ketika kau membuka mata, matamu sakit oleh cahaya-cahaya yang menyakitkan, dan kepalamu seperti dihuni ribuan rayap dari berbagai penjuru. Dan dalam kaku dan marah, kita takkan memilih berbicara. Lalu barangkali engkau yang pendatang akan bertanya-tanya bagaimana bisa kota ini kehilangan peta. Kota ini lebih kehilangan langit dan mereka semua bahkan membakar arah. Mereka membangun langit-langitnya sendiri dengan kesombongan. Di tempat ini, cahaya tidak selalu berarti terang atau jawaban yang ditemukan dari kegelapan. Seperti halnya aku yang hidup dalam bayang-bayang rerumputan dan bebatuan yang diam di tepi kali.

Di tempatku berada, malam selalu menjelma sesat, di mana setiap orang menutup semua pintu dan berkhayal tentang kelelawar yang menghisap otakmu tiba-tiba. Tak satu lampu pun menerangi jalan-jalan. Di tempat ini, matahari dapat berhenti bercahaya. Meski setiap orang menudingku aneh karena hanya aku aku mencintai langit malam dan membenci terik yang palsu, tapi tak mengapa. Bagiku langit adalah kekasih sejati dengan segala aksara dan rahasianya. Demikianlah bila aku telah menyimpan sesuatu yang takkan kau urai.

Aku akan selalu suka malam juga hal-hal yang tak disukai orang-orang di kotaku. Barangkali sejak aku harus berpisah denganmu kala itu. Sebab siang dan orang-orang adalah dua hal yang tak menyukaiku. Maka mudah bagiku mengunjungi malam dan lari ke arah pekatnya sementara mereka menutup pintu dan kami tak saling mengganggu. Kurasa tak pernah dan nyaris tak ada yang sempat bersamaku menemukan langit begitu indah di malam hari. Ada ketidakbatasan yang selalu kupertanyakan. Selalu ingin kutuju. Pada suatu hari nanti, kukhayalkan, aku ingin membongkar langit, membangun menara, dan menyimpan semua hujan. Mungkin supaya dapat kusimak engkau dari arah sana. Memastikanmu bahagia.

Aku yang di tempat ini, aksara yang diabaikan waktu, dijauhi musim, dipisahkan dari angin. Aku yang kini menutup semua pintu entah demi apa. Dan hingga detik ini aku masih saja menyimpan sajak-sajakmu. Meski aku belum pernah tahu apa yang kelak dapat menghentikan perasaan itu.

 

(untuk Tuhan dan hari-hari yang senantiasa berganti)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s