Hari-hari Menjelang Ramadhan (4)

-sekadar merenung-

 

Benar kata Ibu, menjadi perempuan adalah tentang bekerja keras untuk menjadi terus berbahagia. Ada atau tak ada siapa pun di sampingmu.
Saya mengangguk.
Tentu, berbicara dengan Ibu, saya tak akan memosisikan diri sebagai pemikir, melainkah hanya anak.
“Siapa yang akan selalu menjaga kesehatanmu kalau bukan kamu sendiri?” demikian kata beliau.
Barangkali maksud beliau, saya harus selalu optimis dan bersemangat. Orang yang optimis dan bersemangat tidak akan mudah sakit. Kalau sakit, maka kita nggak punya kesempatan melihat dunia lebih luas. Sebab bumi memang luas, dan saya hanya belum sempat ke mana-mana. Andai saya bisa ke mana-mana dan membuktikan bahwa dunia memang luas. Tapi sudahlah. Belakangan, Ibu memang menangkap raut wajah saya seperti cepat tua =)). Tapi saya tak tahu dari sisi mana saya bisa terlihat lebih tua. Barangkali karena frekuensi bad mood saya belakangan lebih intens daripada dulu.

Biar saya ingat-ingat, apa yang telah saya alami belakangan ini.
Aha, yah, saya sudah terlalu altruis. Bahkan untuk hal-hal yang semestinya tidak saya pikirkan dan bukan urusan saya.

Dan demi apa saya harus mengorbankan emosi saya pada mereka yang memang tidak membutuhkan niat baik saya? Niat baik yang
tak didengarkan atau ditangkap sebagai kebaikan adalah kemubadziran.

Baiklah.

Pelajaran penting hari ini adalah saya harusnya lebih banyak mendengarkan diri sendiri, banyak menulis, membaca, dan berdoa. Mendengarkan diri sendiri adalah keterbukaan yang dibutuhkan untuk bisa memandang masalah lebih jernih lagi. Menulis adalah terapi. Membaca adalah jalan untuk menemukan ilmu baru. Doa adalah cara terbaik berkomunikasi dengan Allah. Saya rasa, 4 hal itu adalah hal terbaik untuk dijadikan langkah pertama mengatasi kegelisahan.

Ah, ke mana saja saya selama ini?
Rasanya saya telah menjalani hal seperti penggambaran yang ditulis Yetti A.KA dalam cerpennya di koran Tempo hari Minggu kemarin —sebuah kehidupan yang bahkan tidak bisa diduga sama sekali. Di mana seseorang berubah pelan-pelan. Di mana seseorang mulai dijerat aturan-aturan yang dibuat sendiri. Di mana seseorang mulai membuat hal-hal ideal dan merasa berdosa jika tidak memenuhinya.

Saya khawatir bila ternyata saya termasuk yang demikian 😦

 

 

*Berharap Ramadhan segera datang