Hari-hari Menjelang Ramadhan (1)

Pertama,
Perasaan yang tertuju pada makhluk Allah, bila memang itu tulus, memang akan selalu ada, baik ada ataupun tidak ada orang yang kita sayangi itu. Kasih sayang bisa dalam berbagai bentuk. Walau dalam konsep perisahan sekalipun.
Catatan ini terinspirasi oleh ingatan saya tentang almarhum Mbah Kung, sebab menjelang Ramadhan, tradisi di tempat saya biasanya beziarah ke makam leluhur.

 

Kedua,
Rupanya benar, salat Dhuha punya pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia. Kesehatan juga termasuk rezeki yang berharga yang pantas kita harap setiap saat, termasuk dalam Dhuha. Sebagai manusia, saya selalu bosan dengan iklim kehidupan dunia sehingga saya paham mengapa agama memberi pengakuan akan keimanan, tentang hal-hal yang tak bisa kita jangkau–hal-hal yang jauh di ‘atas’ sana. Tidak hanya supaya kita tidak sombong. Tapi juga agar kita senantiasa tenteram.

 

Ketiga,
Ini soal politik, beranjak dari keheranan saya tentang sebagian besar warga negara RI yang tiba-tiba jadi pengamat politik belakangan ini.

Saya barangkali kagum dengan sistem negara-negara liberal di barat sana, dalam hal menyikapi politik dan keberagaman masyarakatnya. Agama, partai pilihan, usia, dan status adalah hal yang terlalu privat untuk diumbar ke orang lain, maka tabu menanyakan atau pun membahasnya. Barangkali juga bukan hal terpenting bagi mereka. Namun keempat hal itu jadi titik tolak untuk saling bertoleransi dan menghargai. Saya jadi merasa lucu sebab pilpres di Indonesai periode sekarang rasanya kok lebih ramai dari eforia piala dunia. Nggak cuma para tim sukses capresnya, para pendukung yang berasal dari kalangan warga juga ikut debat sendiri-sendiri. Membuat saya jadi terhibur. Bahkan salah satu akun beridentitas keislam pun ikut kampanye dengan tidak bisa menghindarkan diri dari “menjelek-jelekkan capres yang tidak didukungnya.” ini memalukan sekali bagi penganut muslim. Islam itu sendiri agama yang menghargai semua keyakinan dan pilihan. Saya curiga bahwa banyak kelompok di bawah bendera agama loyal memilih capres bukan karena dirinya memang sreg dengan pilihan hatinya, tapi lebih pada doktrin pemimpin golongannya. Saya heran kenapa orang bisa mudah percaya dengan berita-berita yang berseliweran seolah mereka ini saksi yang melihat dengan mata kepala sendiri. Media apalagi, kelihatan tidak objektifnya sampai-sampai sekarang saya sulit menemukan media berita yang objektif tanpa bawa misi kampanye. Heran saya. Saya juga heran sekali mengapa banyak warga loyal dengan capresnya padahal kalau salah satu dari mereka sudah jadi presiden, kita semua kan tetap nyari rezeki sendiri-sendiri. Bukankah hidup itu sekumpulan kemungkinan? Pernah nggak kita berpikir bahwa yang paling kita cintai hari ini bisa menjadi hal yang paling kita benci di kemudian hari, dan juga sebaliknya? Pernah nggak berpikir bahwa bisa saja capres yang kita sembah hari ini jadi yang paling kita inginkan untuk segera lengser di kemudian hari? Sudahlah, apa pun yang Anda pilih meski berbeda dengan pendapat anggota komunitas tertentu tidak membuat Anda lantas jadi kafir dari keyakinan semula. Kembalikan saja itu pada ketentuan Tuhan. Sebentar lagi Ramadhan, nggak baik menyudutkan umat lain, atas nama agama pula. Dan akan lebih nyaman bila kita menentukan pilihan karena hati kita mengatakan demikian. Kalau berani jangan bawa-bawa agama, selama kita tidak punya kemampuan secanggih malaikat untuk menakar keimanan seseorang. Memilih demi kepentingan pihak lain pun (yang bukan keinginan hati kita) rasanya tidak nyaman lho. Percayalah.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s