Tentang Memilih Presiden

-Sekadar catatan kala senggang

 

Saya tentu kurang bisa ngasih penilaian yang proporsional soal debat kemarin malam, kecuali bahwa keduanya telah berusaha keras meyakinkan. Barangkali secara performance, presiden satu lebih menguasai materi daripada satunya, dan barangkali melalui pengamatan pengalaman, peresiden satunya lebih unggul daripada yang lain. Keduanya punya kelebihan dan kekurangnya masing-masing. Sebab, bagaimana pun manusia toh selalu nggak bisa menghindari kedua hal itu.

Tapi dari posisi menonton saya tentu, secara keseluruhan, tampaknya debat kali ini agak konyol sebab mestinya debat presiden banyak mengangkat hal-hal yang lebih besar dibanding anggaran daerah ataupun kartu sehat. Ya begitulah. Itu hanya opini. Tapi saya tidak lebih banyak sibuk mempertimbangkan mana yang nanti saya pilih. Saya hanya lebih banyak merenungi apa yang telah banyak terjadi dalam pengalaman hidup saya sebelum ini.

Pertama,
Sekarang orang semakin canggih menampilkan citra diri, kita sebut dengn pencitraan. Didukung oleh kemudahan informasi, media, dan semacamnya. Tak terkecuali calon pemimpin yang sedang berkampanye supaya dipilih. Sedangkan kita bukan bangsa anak-anak yang bisa dibohongi. Masalahnya orang yang ngasih kita mainan kadang nggak sadar kita sudah dewasa dan bisa memandang bahwa itu hanya pengalih perhatian. Mereka bahkan lupa kita sudah terlalu tua untuk cukup dapat membedakan mana mainan dan mana kebenaran.

Kedua,
Secara pribadi, saya trauma di-PHP-in, tidak hanya soal memilih presiden, itu sebabnya hingga saat ini saya belum berpikir untuk ikut pemilu. Saya belum siap memilih sesuatu. Anda yang pernah merasa salah pilih tentunya akan merasakan ganjalan yang barangkali sama.

Ketiga,
Kemudian, saya hanay berusaha berpikir lebih adil.
Tentu saja, nggak ada calon pemimpin yang bakal bilang mau obrak-abrik negara, pastinya visi misinya mau membangun, memakmurkan, memberantas korupsi, dan hal-hal baik lainnya. Tapi sejarah selalu berkata sebaliknya bukan. Dalam kebobrokan suatu sistem pemerintahan, memang bukan hanya presiden satu-satunya yang bertanggung jawab, tapi bila kita punya presiden yang kurang bernyali, berbagai kerusakan tentu terjadi di mana-mana dan tak selesai.

Keempat,
Pengalaman pribadi selalu bilang bahwa orang yang banyak bicara biasanya minim tindakan 😐 dan saya sedih bila itu benar. Kurang bijak rasanya terlalu banyak mengumbar janji namun setelahnya ‘kabur’ begitu saja. Tapi bodoh rasanya bila kita percaya begitu saja terhadap omongan/rayuan tanpa kita cermat melihat kemungkinan dan hal-hal di luar itu.

Ketiga,
Rasanya kurang adil juga kalau memilih sesuatu karena terpesona dengan performance awal atau karena idola atau pemimpin partai tertentu memilih presiden yang sama misalnya. Menyesal pernah memilih presiden yang salah, membuat hingga saat ini saya masih memilih golput. Kalau waktu bisa dibalik, saya pasti nggak ikut pemilu saat itu. Tapi sungguh ketika sebagian besar warga negara milih seorang presiden, mereka tentu takkan bisa menerawang masa depan negara. Setahu mereka, yang dipilihnya sudah terbaik dibanding calon yang lain.

Tapi, jauh dari itu semua, saya sadar, nggak ada pemimpin yang sempurna, nggak baik juga berharap yang muluk-muluk supaya satu orang bisa bikin negara seluas RI tiba-tiba berubah jadi semaju Dubay misalnya.
Jangankan memimpin semua orang di negara kepulauan seperti Indonesia, kita sendiri mimpin satu orang aja belum tentu bisa kan.

 

Meskipun saya masih golput, saya tetap berharap, siapa pun nanti presidennya, semoga Indonesia menjadi lebih baik dari sekarang. Dan minimal tidak lagi bermental kebudak-budakan seperti masih di zaman kompeni. Hanya itu harapan saya.