Reuni Orang-Orang Asing

Sepertinya saya memang mengalami dua reuni yang agak menggelikan belakangan ini. Kemarin dan hari ini. Saya memang suka bertemu teman-teman dalam sebuah forum, apalagi kalau tidak lama-lama. Hanya sedikit menangkap kejanggalan di reuni semalam. Bayangkan engkau sebagai wanita yang belum menikah, berada di antara teman-teman lama sesama wanita yang semuanya telah berkeluarga dan punya beberapa anak. Kira-kira apakah obrolan yang banyak terjadi?

Kedua, rupanya reuni baru akan terasa aneh kalau dikemas dalam tema yang formal. Ada satu sesi di mana para alumni dari berbagai angkatan menyebutkan pekerjaaan-pekerjaan mereka usai lulus dengan bergiliran. Hasilnya sudah diduga. Hampir semua nggak bekerja di bidang sastra dan yang berhubungan dengan itu. Menurut saya sudah hal yang wajar di Indonesia, alumnus sarjana bekerja di bidang yang tidak nyambung dengan ilmu yang dipelajarinya 4-5 tahun.

Saya guru Matematika, sejak semester 8, kujawab demikian dengan ekspresi biasa saja. Juga jujur menyatakan kalau hal menyenangkan selama kuliah adalah karena angkatan saya cuma 3 orang, dan saya suka belajar di suasana yang tidak terlalu ramai. Rasanya ingin menyampaikan bahwa, pekerjaan fulltime saya cuma membaca dan menyepi, apa pun itu yang lain pekerjaan parttime, terima kasih. Dan acara semacam ini sungguh kurang bermutu. Lalu sesi lain, para dosen banyak membahas mereka yang pernah dapat besiswa atau ke luar negeri. Juga dosen lain pun bercerita pengalamannya di luar negeri. Sebagai semacam ‘patokan’. Baru sadar kalau peserta dari sastra Indonesia cuma saya seorang.

Jadi inget kata kakak angkatan yang terbiasa ngomong ceplas-ceplos tapi kadang bener: “mepelajri sastra memiliki visi misi mengubah keadaan di masyarakat. Lebih luas lagi dunia. Kalau sastra inggris nggak mempelajari karya sastra secara mendalam, malah banyak tata bahasa dan manfaatnya di bidang pekerjaan, sama saja kayak les bahasa Inggris di elti dong. Banyak toh yang akhirnya kerja di bank atau perhotelan?”
Tapi itu dulu, waktu sastra Inggris dan Indonesia, masih saling sindir dalam forum-forum tertentu. Sekarang, kedua jurusan itu tampak saling membutuhkan dan bergantung.

Sebaliknya, prodiku sendiri juga masih kacau bin tidak jelas. Sampai tahun ini bahkan masih mencari identitas, dan sampai 3 kali, saya, yang termasuk alumni, bahkan dimintai ide mata kuliah tambahan yang bermanfaat untuk profesi mahasiswa ke depannya.”
Semakin ngawur lagi. Ide-ide keren yang dulu bermunculan dikemanakan?
Memang bakal disetujui apa kalau saya usulkan yang aneh-aneh, seperti Matkul Kesetaraan Gender dan Feminisme misalnya? Perasaan dulu mahasiswa yang bertampang sosialis dan mempelajari buku-buku kiri dicap komunis juga deh. Usulan skripsinya pun alot dan njulik. Tapi menarik juga, usaha tetep penting bukan? Saya bakal usulkan hal-hal yang memang dibutuhkan di zaman edan semacam sekarang.

Kembali ke masalah acara.

Tahu bakal ditodong mic, aku hanya bolak-balik ke arah meja snack, ambil kopi, ambil camilan, dan lain-lain sebelum disodori benda tersebut untuk berbicara. Kami semua berbicara satu-satu brgiliran menceritakan (memamerkan) kesibukan sekarang. Kerja freelance dan wiraswasta masih dianggap pengangguran di negeri ini, saya sadar itu. Dan akhirnya di depan umum seperti itu, tentu saja aku hanya bicara sedikit dan secukupnya saja. Selain malas ngomong, memang sudah lama sekali tidak terbiasa di depan publik, sejak tidak lagi akif di organisasi dan sejak pekerjaan editor membuat saya jadi semaikin introvert. Sejujurnya, selain pohon tebu dan pria bertampang ganteng, suasana formal seperti itu juga salah satu hal yang membuat saya agak elergi dan pengin cepet menjauh.

Maklum kalau akhirnya banyak yang tidak jadi datang karena alasan malu dan nggak nyaman dengan acara formal. Dan selanjutnya, aku menyadari, orang-orang terbaik yang mestinya dapat menghidupkan hal yang “sastra” di kampus, lama kelamaan menjadi terpecah sendiri-sendiri dan hilang. Kukira acaranya bakal seperti pesta kebun sambil bakar jagung dan ngobrol bebas seperti tadi malam.

Tiba-tiba jadi bertanya-tanya, apakah reuni ini memang untuk reuni itu sendiri?
Atau apakah ada hubungannya dengan unsur marketing dan peningkatan akreditasi kampus?
Apakah ada gunannya perkumpulan reuni diadakan setiap dua tahun? Bukannya malah efektif kalau 10 tahun sekali?

Omong-omong, memang kesuksesan seseorang dapat dinilai dari kantor tempat ia bekerja atau apakah ia pernah keluar negeri?

Yeah, kuakui, ada sebagian dari masyarakat kita yang merasa menemukan perasaan pulang dan bahagia ketika telah berada di negeri-negeri yang jauh di sana. Ada juga yang demi sesuatu yang lebih penting di tanah airnya, mereka bersedia berlama-lama menahan ketidakbetahan. Dan kita juga tahu, ada juga manusia yang sudah merasa bahagia dan sukses ketika dia terbebas dari tanggung jawab pekerjaan apa pun. Ada juga yang bahagia bila ia bekerja lebih dari 20 jam per hari meskipun gajinya sama seperti pegawai bank yang masih training. Ukuran sukses dan bahagia tentu bermacam-macam. Orang juga berkarakter macam-macam. Bagaimana fakultas sastra bisa kurang menjangkau hal-hal yang mestinya “sastra”?

Tapi, hei, apakah itu arti sukses yang sebenarnya?
entahlah..
Sebab tatkala aku mengatakan pada seorang teman yang baru pulang menjelesaikan tugasnya di luar negeri, “Kamu beruntung kesampaian jalan-jalan ke luar negeri, Jenk. Aku baru mimpi aja sudah harus ingat kalau itu mustahil. Kenapa nggak lanjutin kontrak kalau di sana memang banyak tawaran?”
Mukanya malah berubah sendu, dan ia mengatakan, “Aku pulang dan memutuskan tidak melanjutkan kontrak karena pengen menikah, Jenk… tapi calon belum ada, padahal usiaku sudah nggak muda, selain itu aku khawatir dengan ibuku yang sudah sepuh dan belum melihatku menikah.” Dan intinya dia belum merasa sukses. Atau barangkali setiap kesuksesan yang dicapai orang-orang belum tentu merupakan kesuksesan sempurna seperti kelihatannya?

Hari ini aku pulang mengajar dengan resah. Jalan-jalan macet. Sedari siang parade kampanye semakin brutal bentuknya. Cuaca gerah. Dan saya, baru sadar kalau sekarang lagi musim liburan. Pantes.