Surat dari negeri hujan

Dear Penghuni Bulan,

Pernahkah engkau mendengar dongeng tentang peri pemetik air mata?

Apakah kehidupan memang lahir dan berakhir dari air mata? Hm, aku ragu. Terlebih tatkala kubuka kunci ingatan melalui foto-fotomu yang engkau kirim dari negeri bulan. Lalu, sekelebat kenangan menghangat, sejak bertemu engkau pertama kali, tatkala aku belum berdamai pada air mata. Kurasa air mata adalah kesedihan yang gelap dan beku. Maka kita tak boleh memilikinya. Kemudian kehidupanku terus berjalan dengan kita berdua main kucing-kucingan. Tahukah bahwa dalam jarak yang begitu jauh dan dunia yang begitu diam ini, aku selalu mendengar sayup detak jantungmu, menyimak tidurmu, menghafal kebiasaanmu tatkala pagi, dan menerka jam bepergianmu di kala malam, juga selalu dapat menatap keindahan yang engkau tangkap lewat matamu. Seperti segenap kartu pos hasil cuilan air laut yang engkau kirim dari negerimu. Selalu saja aku ingin mencuri-curi kesempatan untuk bisa minggat ke negerimu, tapi kata ibuku, negerimu begitu jauh dan tak terjangkau, aku takkan bisa menempuhnya. Dan aku takkan tahu bagaimana cara pergi ke sana. Ibuku tak pernah percaya bahwa sesungguhnya kita memiliki peri-peri ungu yang setia mengantarkan surat-surat kita tepat waktu, berserta kiriman ekspresi wajah kita dan musik-musik yang kita saling tukar.

Aku bahkan selalu suka melihat rautmu yang memberengut setiap aku terlihat tak memerhatikan perkataanmu. Aku bahkan sampai menghafal eskpresi kecewamu. Sesungguhnya, aku hanya banyak bersikap dingin pada orang yang membuat hatiku nyaman. Takkan kubiarkan ia menemukan pipiku yang merona karena malu dan peri-peri ungu memotretnya untuk dikirim ke negerimu. Meskipun aku akan gagal bersembunyi dari tawa yang lepas tatkala engkau berbicara hal-hal konyol. Peri-peri itu terlanjur merekam tawaku untuk dilempar ke negerimu, ah, pasti wajahku buruk sekali.

Namun, tak kupungkiri, aku juga suka caramu tertawa, lalu dalam diam-diam itu, aku akan senantiasa menyimpan tawamu itu yang menjelma butir-butir berbentuk tetesan embun yang mengkristal, telah kusimpan mereka sejak kita memiliki kebersamaan yang aneh ini. Kini semuanya telah memenuhi dinding kamarku hingga penuh. Hingga aku begitu sedih bila suatu saat aku akan berhenti mengumpulkannya.

Siapa yang tahu tentang nasib seseorang di masa depan? Dan kau takkan menyadari itu. Kau takkan menyadari bahwa aku membenci pagi sejak kutahu hanya pada malam hari aku dapat bersamamu. Menemuimu.

Tapi selalu saja, aku akan menghilang dengan bodohnya, tatkala engkau mulai menemuiku. Aku takut engkau menangkap air mataku yang tak pernah kutahu mengapa bisa begitu mudah membanjir ketika mengingatmu. Aku selalu takut, kenanganmu selalu dapat mengalahkan segalanya yang kusebut kenangan selama ini. Kau tahu kenapa? Sebab selama ini aku tak menganggap kenangan adalah kecacatan, maka ia tak akan kubuang sia-sia. Seperti juga uraian kenanganmu yang selalu aku dengarkan dalam kebahagiaan, melalui surat-suratmu. Namun semenjak itu, tak pernah aku berani memilikimu. Ingatkah engkau tatkala aku bercerita tentang masa kecilku? Aku jenis anak kecil yang suka mencabuti bunga-bunga. Suatu ketika aku menelusuri sebuah hutan dan menemukan bunga yang begitu indah dan berwarna abu-abu, warnanya membuat perasaanku damai, dan bunga itulah yang terindah dari yang pernah kulihat. Maka dari itu, aku takkan berani memetiknya. Aku takut melihat bunga itu layu bila dipetik, lalu mati dan bentuknya akan terus membuatku terluka. Maka aku menjaganya dengan membuatnya tetap menjadi rahasia. Demikianlah yang kurasakan.

Tapi aku memang mencintai kebersamaan denganmu–yang membuatku selalu mau menunggumu, dan aku selalu rela membebaskanmu, berdoa agar kamu selalu bahagia, juga akan bersedia membaca setiap suratmu. Dan, ah, kau telah bosan bila menemukan kenyataan itu, bosan mendengar hal yang sama. Barangkali ada juga satu jenis perasaan yang bisa mendebukan perasaan lain yang kukira sudah sedemikian mapan, hanya karena satu orang yang tak pernah dimiliki. Dan aku akan bersedia menyimpan perasaan itu bertahun kemudian bila itu harus kulakukan. Sebab di negeriku aku telah banyak diajari menjadi membosankan dan menyimpan air mata rapat-rapat, menyimpan kebahagiaan rapat-rapat, juga barangkali menyimpan kematian rapat-rapat..
Apakah saat menerima surat ini, kamu sedang bahagia? Aku bahagia bila kamu bahagia. Kau tahu, aku selalu kagum cara negerimu mengajarimu soal menanam dan menyemai kebahagiaan.

Rasanya di negeriku, kehidupan memang terbentuk dan lahir dari air mata, seperti yang pernah diucapkan seorang penyair yang menyukai senja. Tapi pernahkah engkau mendengar dongeng sekawanan peri yang membawa air mata dari bawah bantal kita yang basah bila kita tengah bersedih di tengah malam dan di tengah tidur?

Baiklah kuceritakan.

Peri-peri itu datang dari negeri yang sangat jauh. Mereka hadir diam-diam di kala semua orang tertidur. Di tangannya mereka membawa dua keranjang kosong untuk memunguti air mata yang tersimpan di bawah bantal. Mereka menadah butir air mata yang jatuh dari pelupuk orang-orang yang bersedih dan peri-peri itu mengubahnya jadi kristal. Meskipun tak lebih besar dari biji kenari, tapi keranjang yang mereka bawa itu mampu menampung seluruh air mata kesedihan di negeri bumi. Karena semua orang tak mengetahui perihal itu, maka mereka mengira yang terbang dan beribu jumlahnya itu hanya kunang-kunang atau sekawanan lebah.

Peri-peri itu mencari setiap air mata dan membawanya dalam bentuk kristal bening. Konon air mata itu dikumpulkan di dalam ceruk-ceruk gua, dan peri-peri itu selalu tak pernah kehabisan stok. Dalam air mata itu, tersimpan seluruh kenangan yang diteteskan oleh si empunya air mata. Maka bila butir-butir kristal air mata itu didekatkan di telinga, engkau akan mendengar berbagai kisah yang dialami orang-orang. Bahkan engkau bisa melihat sebuah dunia di sana bila engkau dekatkan kristal itu di depan mata. Juga akan kau temukan setiap rahasia yang tersimpan rapat-rapat. Peri-peri akan menjaganya supaya tidak seorang pun mencuri lalu menjualnya di jalan-jalan.

Betapa selalu absurd cerita-cerita yang berasal dari negeri dongeng. Haha, sudahlah.

Namun, tahukah engkau, suatu hari aku terbangun pada pagi hari yang menjemukan sepeti biasa, aku melihat sekawanan peri-peri itu dalam cahaya kehijauan menjinjing keranjang besar dan meninggalkan kamarku. Semula kukira mereka hanya arak-arakan sekawanan capung. Mereka terbang entah ke mana dan hanya kutangkap ekor cahayanya. Sampai surat ini selesai kutuliskan, aku masih tak tahu, apa yang baru saja mereka bawa dari dalam kamarku semalaman.

Kau percaya itu?

Temanmu 

 

 

*terinspirasi cerpen Agus Noor tentang peri pemetik air mata