Tradisi dan Kekejaman (part 2)

Sebuah catatan kecil

Saya istighfar berkali-kali sembari menahan kesal ketika membaca sebuah berita di yahoo.com hari ini dan menyadari bahwa di belahan bumi ini, ada sebuah tradisi–tanpa bermaksud menghakimi tradisi tersebut–yang menyingkirkan para perempuan yang sedang menstruasi dengan cara-cara yang kurang manusiawi. Dan aku hampir menangis ketika melihat foto-fotonya. Rata-rata mereka dibiarkan tinggal di sebuah gubug, melawan udara dingin, dan sendirian. Terlebih sebelum ini, aku sempat menelusuri beberapa sejarah penindasan di kawasan negara-negara di Asia, Amerika, dan juga beberapa yang lainnya, yang tentunya tak kalah memprihatinkan.
–> http://id.berita.yahoo.com/foto/tradisi-chaupadi-di-nepal-1394424201-slideshow/

Barangkali aku geram dan meradang. Ingin tahu lebih banyak, aku pun menelusuri sumber lain. Dan akhirnya kutemukan bahwa kebiasaan tersebut termasuk tradisi lama yang dianut oleh masyarakat yang memang masih primitif serta tidak berpendidikan (hanya masyarakat tertentu saja yang terjamah hal-hal yang keilmuan di sana). Meski masih bingung antara maklum atau kesal, aku pun menyadari sesuatu. Untuk apa menuding tradisi lain, wong budaya sendiri aja bukan budaya yang sempurna.

Yeah, aku sadar, kebudayaan di Jawa (di mana aku lahir) juga mengenal tradisi patriakhat, bahkan tak kalah “primitif”nya, dan masih ada sisa-sisa patriakhat yang melekat di zaman kini. Tentunya segalanya butuh proses yang tidak sebentar apalagi instan. Terlebih bila patriakhat tidak hanya masih didukung kaum pria tetapi juga sebagian wanita.

Aku sempat lupa, bahwa aku hanya akan akan mengumpati dengan rasa sebal, sebuah kebudayaan atau kaum lelaki yang menyingkirkan perempuannya ketika mengalami hal-hal wajar seperti menstruasi seolah makhluk najis yang mesti dijauhi, sementara mereka hidup di lingkungan yang beradab. Aku hanya akan mengutuk mereka yang memposisikan kaum perempuan serendah budak. Seperti hanya sekadar dinilai dari ‘manfaat’ dan bukan harkat dan martabat.

Namun, berbicara sejarah bangsa, konon sama halnya berbicara tentang sejarah kekejaman. Tidak ada sejarah yang tidak luput dari kekejian. Dan kita juga dapat menemukannya di berbagai referensi yang membahas sejarah tradisi kita sendiri. Tidak hanya yang dialami Kartini tetapi juga yang lain. Barangkali ada yang pernah membaca sebuah buku berjudul Panggil Aku Kartini Saja yang ditulis oleh Pramoedya AT? Kita juga tidak lupa sejarah rezim Orde Baru yang patriakhat merendahkan organisasi Gerwani yang rata-rata terdiri dari perempuan cerdas dan revolusioner, menjatuhkan mereka dengan berderet fitnah dan stigma.

Kembali pada sebuah tradisi di Nepal ini. Sebab kita semua tahu persis bukan, beda manusia beradab dengan yang jahiliyah? Minimal nurani kitalah yang bisa membedakan. Kelompok beradab berada di zaman maju, di mana informasi dan segalanya mudah diakses, komunikasi juga dapat dilakukan dalam berbagai cara, di samping itu, masyarakatnya juga bukan yang terbelakang. Sedangkan yang jahiliyah adalah tentang keterbatasan dan keterbelakangan. Dan aku hanya bisa berdoa, semoga kelak, wilayah tersebut segera menemukan pencerahan.

Kita toh paham, ada perbedaan besar antara tradisi dan manusia-manusiaanya. Manusia modern yang masih meremehkan para wanitalah yang lebih barbar dan tidak humanis. Bukan mereka ini.