film horor zaman dulu dan sekarang

 

Kira-kira sejam yang lalu, saya baru selesai nonton film lama bertema horor di televisi. Artisnya almh. Suzana yang dulu sempat jadi ikon artis horor populer di tahun ’80-an. Jadi ingat sewaktu kecil, saya nonton sendirian film semacam itu sampai selesai. Seperti anak-anak kecil lainnya, saya tetap menonton malam-malam dan sendirian hanya didorong oleh rasa penasaran dan kesenangan. Anak kecil barangkali tidak terlalu paham rasa ngeri. Kadang kedewasaanlah yang mengacaukan logika, sebab setelah dewasa saya justru sering jejeritan kalau nonton film horor modern. Nonton berjamaah bareng temen aja tetap ‘heboh’. Padahal cuma film. Karangan manusia.

Sekarang seperti kembali ke masa kecil, saya nonton film itu lagi sendirian dan dengan tenang. Agaknya, kalau dipikir-pikir, film horor selalu menyimpan adegan lucu dan konyol. Coba pikir, bagaimana bisa hantu berinteraksi dengan manusia dan masih bisa kencan dengan mantan suami? Bagaimana bisa selembar hantu–yang semula divisualisasikan dengan wujud transparan–bisa makan sate dan menggendong kucing? Bagaimana bisa hantu membunuh musuh-musuh yang menjadi penyebab kematiannya dengan cara yang bermacam-macam? Sempatkan ia berpikir bahwa bila para musuh bebuyutan itu mati dibunuhnya, bukankah mereka malah akan ketemu lagi di alam lain, reunian? Tapi itu semua tentu bukan hal besar, sebab agaknya lebih baik film horor yang semacam itu, yang masih di-setting secara polos dan bahkan diselipi nasihat ustadz, daripada film horor jenis sekarang. Dan kini saya sadar, manusia punya reaksi dan emosi yang tak jauh beda, film hororlah yang mengalami transformasi.

Film horor zaman dulu tak lepas begitu saja dari nilai moral, seperti yang saya tonton malam ini. Si hantu ini semasa hidupnya adalah seorang istri berhati tulus yang mengalami depresi kemudian bunuh diri karena alasan kehormatan, sebab ketika suaminya pergi bertugas, ia sempat diperkosa oleh sejumlah orang dan kemudian hamil. Penonton mungkin akan merasa gemas dan ikut sedih melihat si wanita yang malah diejek di persidangan sebagai sundal dan melihat langsung para pelaku dibebaskan dari tuduhan. Setelah jadi arwah, ia pun mencari para pemerkosa untuk membalas dendam. Bahkan si hantu hanya meneror dengan serius para penyebab kematian atau sekadar berbuat usil dengan mereka yang tidak punya rasa hormat terhadap bangsa jin. Pesannya adalah bahwa melakukan kejahatan seperti mencoreng kehormatan wanita yang tak bersalah, menyimpan konsekuensi yang sangat mengerikan di masa mendatang. Film diakhiri dengan permintaan suami dan segenap kiai pada si hantu untuk kembali ke tempat yang seharusnya, dengan rasa sedih serta doa pengantar supaya damai di alam sana. Mengharukan.

Berbeda dengan film yang sekarang, yang rata-rata malah sudah mengeksploitasi tubuh perempuan dan menyisipinya adegan vulgar. Hantu di film zaman sekarang seperti menyiratkan pesan bahwa dunia lain hanya berisi makhluk-makhluk jahat yang meneror siapa pun bahkan yang tidak bersalah. Itu pun jarang dibingkai oleh cerita kehidupan yang dekat dengan realitas. Yeah, intinya, film horor zaman dulu lebih banyak memberi pesan moral, sedangkan zaman sekarang (dengan penggarapan kostum yang sudah maju, musik yang amat mendukung, dan make-up yang ‘total’) cenderung dimaksudkan untuk hiburan semata. Namun efeknya membuat kita perlu berhati-hati, karena kebanyakan membuat penontonnya justru paranoid dan terkejut dengan tidak logis. Apalagi film horor kita di zaman sekarang seolah berdampingan erat dengan adegan porno.

Yeah, ini hanya sekadar pendapat saya mengenai fenomena film horor Indonesia dengan wawasan yang tentunya masih terbatas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s