Kenangan dalam Selegit Kopi: The Coffe Memory

Coffee MemoryJudul buku : The Coffee Memory
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah hal. : vi + 226 halaman
Tahun terbit : 2013

“Aroma kopi” seperti menguar ketika saya membeli novel ini beberapa waktu yang lalu, dibungkus dengan unik, dan cover bergambar biji kopi. Tak jauh dari hobi saya meracik dan menikmati kopi di setiap kesempatan, akhirnya saya pun penasaran ingin membacanya. Terlebih sesuai dengan judulnya, novel ini diracik dalam buku ini bercerita tentang kenangan dan kopi.

Pada beberapa bab awal, saya masih merasa sendu. Novel ini mengandung deskripsi unik yang mengalir dengan sederhana namun apik, sehingga kesedihan dan kebahagiaan digambarkan seperti benang tipis. Membuat saya mampu masuk dalam kondisi dunia si tokoh utama dan orang-orang di sekitarnya.

Dalam kenangan, seseorang akan selalu berhadapan dengan sebuah dimensi yang akan terus membayangi mana pun ia berada. Ia sanggup merapuhkan atau menguatkan. Hal itulah yang akan ditemukan dalam komposisi novel ini. Seperti yang diilustrasikan di dalamnya.

The Coffe Memory bercerita tentang seorang ibu muda bernama Dania yang memperjuangkan hidupnya dengan melanjutkan usaha kafe. Suaminya, Andro, pecinta kopi dan dan seorang barista, meninggal dalam sebuah kecelakaan dan meninggalkan seorang anak dan coffe shop. Sejak itu, Dania berada dalam keterpurukan. Tak mudah baginya melupakan sang suami, sedangkan apa pun yang menyangkut kopi selalu mengingatkannya. Namun di tengah keterpurukan itu, ia harus bangkit untuk bertahan hidup dan juga mempertahankan Katjoe Manis, kafe yang telah ia bangun bersama Andro bahkan sejak mereka belum menikah. Terlebih ada Sultan di sampingnya, putra semata wayang yang harus dipikirakan masa depannya.

Cinta platonis, selayaknya kopi pertama yang membuatmu terkesan, sangat terkesan, hingga tahun-tahun yang berlalu tetap tidak mampu menerbangkan memorimu akan cita rasa, aroma dan jenisnya, dan akan tetap mengenangnya sebagai kopi terbaik meski setelahnya kamu mengenal dan menghirup puluhan jenis kopi lain. (halaman 117)

Rupanya tidak mudah mempertahankan Katjoe Manis seorang diri, terlebih bila tetap terjebak dalam cinta platonis terhadap seseorang yang kengannya selalu ada tiap kali aroma kopi tertangkap penciumannya. Ia harus menyusun segalanya kembali. Ia bahkan merekrut barista baru dan membuatnya bertemu dengan Barry, barista berbakat yang memutuskan keluar dari kafe bergensi hanya untuk bekerja di Katjoe Manis. Bahkan tatkala diwawancara, ia menyampaikan alasan kecil: karena telah mengenal Andro sebelumnya melalui dunia maya.

Beberapa karyawannya pindah karena kevakuman kafe pasca meninggalnya Andro. Persaingan bisnis di Batam, lokasi di mana Katjoe Manis berada, semakin ketat. Terlebih ketika muncul Bookafeholic yang rupanya menempati rangking kepopuleran lebih melesat membuat kondisi Katjoe Manis di ambang bangkrut. Rupanya, kafe baru milik Pram, salah seorang pengagum Dania sejak SMA yang tidak menikah karena masih mencintai Dania. Namun Pram juga salah satu saingan terberat Dania. Terlebih ketika stafnya mengambil salah satu barista Katjoe Manis.

Dania tentu tidak tinggal diam. Bersama Ratih, Barry, sisa semangat hidupnya, ia mencoba bangkit dan mencari cara supaya para kafe tetap ada. Sekalipun dalam perjalanan itu, Dania dihadapkan oleh pilihan-pilihan, terutama yang datang dari Redi, abang iparnya, untuk menyerahkan kafe tersebut hingga menggantinya dengan bisnis warung kopi franchise.

Bisnis soffe shop tidak semata soal nominal dan profit, tetapi juga di dalamnya ada passion, antusias, dan rasa tanggung jawab. (Halaman 45)

Mempertahankan kafe seperti halnya mempertahankan pendirian, kenangan mendiang suaminya, dan identitas kafe itu sendiri. Kopi tidak hanya berorientasi pada kepopuleran maupun material semata, namun ada nilai di balik itu semua. Komposisi, cita rasa, mutu, dan bahkan cara mengolahnya menentukan kualitas yang tersaji pada secangkir kopi. Dan lebih penting lagi, kenangan rupanya menguatkan tekadnya untuk mempertahankan visi misi Katjoe Manis dari awal mula.

Belum lagi usahanya memperlihatkan perkembangan signifikan, kafe Katjoe Manis mengalami kebakaran dan membuat salah satu pegawainya patah kaki. Bersaman dengan itu, Sultan, anak samata wayangnya, diopname karena DB. Sementara Pram tak berhenti mengejar Dania dengan berbagai cara romantis untuk melamarnya. Semakin Pram mengejar, sekuat itu juga Dania menghindar. Ia justru lebih membutuhkan Barry, barista yang telah sering membantunya, menguatkannya, bahkan memberinya berbagai ide untuk kemajuan kafe. Meskipun ia belum mengerti mengapa.

Barry yang justru sering mengiriminya email seputar bisnis kafe dan motivasi membuat Dania sadar bahwa tindakanya untuk Katjoe Manis tergolong tidak biasa. Dari blognyalah, rahasia itu terungkap. Barry rupanya bukan baru saja mengenal Andro, melainkan telah lama. Yang lebih mengejutkan lagi, rahasia yang ia simpan selama ini mampu membuat Dania sangat bimbang.

Rubuhnya kafe karena kebakaran tidak menyulut semangat para pegawai yang terlanjur telah mencintai kafe dan menghormati pemiliknya yang telah tiada. Saat itulah ia merasa tak sendiri, sebab di samping hubungan kerja dan bisnis, ada nilai yang tak bisa diukur dengan materi. Kebersama dan kekeluargaana. Tapi seseorang pada akhirnya memberi warna lain bagi hidup Dania. Bahkan mengantarnya untuk kembali mencintai dunia kopi secara keseluruhan dan kesungguhan.

Secangkir kopi adalah jembatan kenangan dan komunikasi yang paling hangat. Dan, bersamanya, kita bisa menciptakan momen-momen spesial dalam secercah perjalanan hidup. (halaman 16)

Cerita dalam novel ini tidak sekadar cerita perjalanan hidup biasa, tapi juga tersaji utuh dan berakhir dalam ending yang membuat saya tersenyum. Cinta, kopi, dan perjuangan di dunia bisnis coffe shop adalah tema besar buku ini. Informasi mengenai kopi dan beebrapa quote tentang hidup yang ditambahkan dalam novel tersebut cukup menginspirasi. Narasi dan dialog tokoh-tokohnya yang kadang menggelikan kadang mengharukan, tersaji dengan komposisinya pas dalam gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Membaca novel ini seperti menikmati secangkir cappuccino di pagi hari dengan ditambahi sedikit kayu manis bubuk. Harum, legit, creamy, dan menyegarkan.

Buku ini recommended bagi siapa pun pecinta kopi dan buku.

kopi, buku, hujan, dan musik: 4 perpaduan yang saya suka :)

@rantingkemuning