belajar nulis puisi

Kantorku baru saja dapat pesanan souvenir berbentuk kalender. Di setiap halamannya terdapat foto calon pengantin dan ada sebait puisi di sana. Ceritanya, kalender berisi foto dan puisi itu mau dipakai untuk souvenir pernikahan. Para editor, selain lagi sibuk garap naskah, mereka juga lagi nggak PD nggarap puisi yang katanya bakal dipasang di setiap foto, yang tertera di kaleder tersebut.
Akhirnya, berhubung gaweanku lagi agak longgar, akhirnya tugas itu dilimpahkan ke aku…
Yeah, baiklah, itung-itung sambil membiasakan lagi nulis puisi :))
Tapi setelah jadi dan kukirim ke desain, toba-tiba merasa down lagi, enggak tahu deh ini puisi cocok nggak buat souvenir pernikahan 😐

 

1 (di foto prewed pasangan yang lagi mancing di pinggir laut)

Sampaikan pada sepotong senja di pantai ini:
aku ingin tinggal di jejak matamu
yang abadi di ingatanku…

 

2 (dipasang foto si calon mempelai yang lagi nyuci motor bareng)

Aku akan terjaga sepanjang malam
menjaga mimpimu
sebab aku tak memiliki kata-kata untukmu,
selain yang ingin selalu kupandang dalam dekat dan kejauhan

 

3 (di dalam foto pasangan yang sedang ngobrol di balkon)

Kita akan memiliki seribu pagi,
embun yang bercengkrama di ujung dedaunan,
dan bunga-bunga yang mekar di pekarangan
untuk kita tetap bersama

 

4 (di foto calon mempelai yang lagi salat berjamaah bareng)

Aku ingin selalu menjumpai-Nya
sepanjang hidupku,
dalam segenap napasku,
dengan engkau tetap berada di sampingku….

 

5 (di dalam foto calon emmpelai yang lagi bertunangan. si pria sedang memasang cincin di jari si wanita)

Hari ini aku bercerita pada embun yang menyapa rerumputan
juga matahari yang merangkul bumi:
bahwa hanya kau yang tetap di hidupku
dalam suka dan duka

 

6 (di foto calon mempelai yang sedang masak bareng di dapur)

Di dalam diri kita, mengalir sebuah kata
yang selalu ada senyummu di sana,
dan membuatku selalu pulang
:rindu

 

*Diposting atas saran salah satu rekan editor: Mpok Nanik 😀

5 komentar di “belajar nulis puisi

  1. kalau masalah cocok atau nggaknya itu relatif, karena penafsiran isi puisi itu subjaktif. terutama pada sang penulis puisi tersebut.
    tapi menurut saya, cocok-cocok ajah… hehehe… trims.

Tinggalkan Balasan ke Ainin Najib Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s