senin keduaku

Seperti banyak yang ingin kutulis hari ini, tentang kegelisahan-kegelisahan yang sulit kubagi pada orang lain, dan akhirnya hanya mampu kurangkum beberapa hal saja:

 

1
Hari ini rasanya seperti senin kedua. Pekerjaanku di kantor semakin tidak jelas dan belum juga kelar. Yang kupikirakan justru apa saja yang mestinya kulakukan nanti setelah segalanya beres, sebab kurasa memang bakal sia-sia bila tetap menjalani hal di mana aku tak memiliki keyakinan penuh di sana.

 

2
Sore ini hujan deras. Rasanya aku begitu rindu kamarku, membaca setumpuk buku yang sudah lama tinggal di pinggir tempat tidurku, membuat kopi hangat, dan mulai mengerjakan hal-hal yang kurencanakan….

 

3
Malam ini belum larut. Aku bangun tidur di jam 8 dan baru membaca beberapa halaman sebuah buku yang berkisah tentang kebobrokan negeriku. Ah, rupanya aku ketiduran….

Ketika berjalan ke ruang depan, aku dikejutkan oleh berita yang sungguh mendadak. salah satu tetanggaku dekat rumah meninggal. kurasa tak hanya kami yang syok dengan berita itu. tapi barangkali semua orang di kampung kami. namanya Pak Hadi. terkahir aku bertemu beliau ketika rapat persiapan pernikahan adikku beberapa minggu lalu, sebab beliau salah satu panitia acara nanti. Usianya belum begitu tua. Barangkali masih 50 an. Ia memiliki istri yang juga ceria dan setia. Dan hanya memiliki satu anak laki-laki yang masih remaja.

Yang begitu mengejutkan karena beberapa menit sebelum kabar itu datang, konon Pak Hadi masih janjian latihan nyanyi bareng dengan teman-teman tetangga yang lain. Kemarin ibu dan adikku bahkan masih berdiri berjejeran liat acara panggung seni di depan kelurahan. Kemarin hari beliau masih memprofokasi semua orang dengan guyon dan tawa. Yeah, di antara sesepuh lain di kampungku, beliaulah orang paling bahagia dan ramah. Tawanya selalu membuat orang lain ikut melupakan masalahnya. Tak kalah penting, selain humoris, perannya yang bersifat sosial terhadap masyarakat sekitar begitu banyak.

Meski berasal dari keluarga menengah ke bawah, tinggal di kontrakan berdinding bambu dan kecil, dan tak mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang tinggi, tak pernah sekalipun wajahnya terlihat sedih atau mengeluh. Siapa pun dihibur, siapa pun yang bertemu dengannya dibuat tertawa dan ia tak pernah pandang bulu. Ialah figur paling optimis dalam keadaan apa pun di kampung kami. Seolah tak pernah ada satu hal pun di dunia ini yang membuatnya terbebani. Bahkan tak sekalipun menjelek-jelekkan orang lain karena bagaimana bisa orang berpikiran humoris berpikir tentang yang buruk? Yeah, kematian selalu datang segera kepada orang-orang baik dan tak pernah terduga. Tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya anak dan istrinya. Aku hanya bisa berdoa semoga amal perbuatan beliau diterima di sisi-Nya dan yang tinggalkan diberi ketabahan. Amin.

 

4
Masih linglung di depan televisi, aku melihat rupanya kematian juga menjadi kabar riuh di luar sana. Belum lama kabar tabrakan kereta dengan truk tangki bahan bakar di Jakarta yang merenggut puluhan korban, sudah ditambah lagi kabar kecelakaan tragis lain yang disebabkan oleh kemacetan. Masih di Jakarta. Kota di mana para pemimpin tinggal. Yeah, kurasa memang kemacetan bukan lagi masalah kota, tapi juga bencana nasional. Kuputuskan untuk kembali ke kamar dan tak meneruskan menyimak berita. Semakin lama, aku semakin muak dengan negeriku sendiri. Bagaimana bisa seorang presiden enak-enakkan merupiahkan simpanan dolarnya dengan riang, juga para pejabat lain malah sedang menikmati hasil bisnis korupsinya, sementara di luar sana, kekacauan negaranya bertambah parah.

Tuhan… ajari saya bersabar….