Tahun Depan?

Setiap hari Senin aku selalu tak mau peduli perihal pekerjaan dan kehidupan sejak bangun tidur. Karena biasanya bakal menyebalkan dan melelahkan. Tapi setidaknya pagi ini aku sempat ngobrol dengan temen dekat yang sedang berada jauh di negeri orang, melalui YM. Seperti biasa, kami bercerita ngalor-ngidul tentang hal-hal kecil di sekitar. Kemudian ia pun bercerita tentang pria yang dekat dengannya. Memang, di antara kami berdua, dialah yang paling antusias segera menikah dan punya keluarga dan juga selalu khawatir soal usia. Padahal aku yang lebih tua beberapa bulan dengannya nggak lagi terlalu khawatir soal itu. Namun aku paham sekali posisinya. Sayang lagi-lagi nasib baik seolah belum menghampirinya. Selain perasaannya belum sreg betul, si pria juga penganut sekte “tahun depan”. Pria  yang ia maksud baru (kemungkinan) siap menikah tahun depan. Soalnya dia mau nyelesein S2 dulu, katanya. Masalahnya, temanku yang satu ini tipenya bukan pria yang sudah matang.

Ya kalau lulus di tahun itu. Kalau tidak? Kalau malah keburu kepincut sama yang lain? Kalau ternyata dia berubah pikiran di tahun depan itu? Atau malah nggak lulus karena kampusnya kebakaran? Masih ikhlas nunggu? Kemungkinan begitu banyak berkelebat. Setahun itu lamanya berlipat bagi yang nunggu. Udah deh milih yang udah siap aja… Dan aku selalu mencoba mengajak berpikir dengan banyak sisi pada teman-teman atau saudara perempuan di sekitarku bila menyikapi hal itu. (memang lebih mudah ngasih nasihat pada orang lain daripada diri sendiri, haha). Sebab para perempuan agak lemah ketika membedakan makna di balik ucapan lawan jenisnya.

Yang dia maksud tahun depan ini betulan janji atau masih wacana?

Begini bila aku memberi sedikit gambaran untuk mereka yang pro pernikahan: Laki-laki secara biologis bisa nikah usia berapa pun. Perempuan nggak. Bahkan perempuan punya masa menopause lebih cepat dari laki-laki. Itu fakta. Pasti nggak mau kan punya anak dalam keadaan sudah tua? Anak masih SD tapi sudah pensiun itu susah lho ngejalaninya. Belum lagi risiko-risiko kesehatan yang bakal ditanggung perempuan. Kalau kamu nunggu dia yang belum pasti, bagaimana bila Tuhan malah memberi kebijakan lain (yang kita nggak tahu) terhadapmu atau terhadapnya? Sudah siap?

Tapi jauh dari semua itu, aku memang agak risih dengan istilah “tahun depan”. Rasanya sama abu-abunya dengan istilah “besok” dan “nanti”—yang disebut tanpa keterangan lebih detail seperti tanggal berapa dan jam berapa. Sahabatku itu pun sepakat denganku, sekalipun masih sambil mikir. Aku sering ketemu kata ‘tahun depan’ yang bahkan sudah menjadi tahun belakang yang tidak terjadi apa-apa.

Membahas ini, aku jadi ingat jawaban konyol salah satu teman kampusku dulu. Ceritanya dia udah lama berkomitmen dengan pacarnya, sudah lebih dari 6 tahunan. Orang-orang di sekitar mereka juga usil (baca: tega) menanyakan kapan mereka nikah. Temanku ini dengan enteng selalu menjawab “tahun depan”.
“Yang benar?” Mereka tentu heboh mendengar jawaban itu.
“Iya. Masa mau tahun belakang,” lanjutnya santai.

Dan untungnya mereka pun akhirnya menikah juga dan sekarang sudah punya anak. Tapi betapa memperjuangkan ‘tahun depan’ itu kelihatannya bukan hal yang mudah. Kebetulan ia teman wira-wiriku di akhir-akhir tahun kuliah. Orang lain barangkali nggak tahu ia bahkan harus ekstra sabar mengalahkan perasaannya yang sudah capek berharap demi kepastian hubungan. Selama 6 tahun, ia selalu mengalami pasang surut hubungan. Nggak jadi, jadi, nggak jadi, jadi. Putus, nyambung, putus nyambung, dan seterusnya. Kalau aku paling lebih milih pindah kewarganegaraan daripada ngurusi pacaran nggak jelas semacam itu. Yeah walaupun akhirnya mereka menikah juga, tapi ingat, di luar sana banyak yang mengalami hal serupa tapi nggak jadi lho. Alias gagal. Pernikahan lebih pada urusan masing-masing dan bersifat privat. Bagiku lebih bersifat “iman.”

Oke, aku akui, manusia memang hanya bisa merencanakan dan menyusun angan-angan. Tapi semua itu ditentukan nanti. Karena bagaimana pun yang pasti adalah yang sedang dijalani. Dalam hal ini, aku setuju dengan ideologinya orang-orang atheis. Mereka nggak peduli masa depan dan lebih yakin dengan masa sekarang. Seperti halnya kadang aku juga setuju dengan pemikiran kelompok warga RI pendukung nuklir—yang lebih percaya prospek untuk pembangunan daripada dampak buruk ke lingkungan yang sedang tidak terjadi sekarang. Meski tidak benar-benar mendukung.

Kembali pada penganut paham “tahun depan”. Selalu dari masa lalu aku belajar tentang kini. Aku juga sering belajar dari hal-hal di sekitar. Seperti halnya, mimpi-mimpi masyarakat Aceh tahun 2003, akhirnya tersapu Tsunami di tahun 2004-nya. Bagi orang-orang Jogja pada tahun 2006, rencana-rencana tahun 2005-nya juga ambruk oleh gempa. Mimpi tahun depan masyakarat lereng Merapi di 2009 juga tersapu awan panas di tahun 2010. Bukankah bila demikian tahun depan lebih merujuk pada sesuatu yang tidak pasti.

Begitulah. Istilah “tahun depan” sering kali terdengar begitu absurd di telingaku….
Sekalipun demikian, kita memang harus mengambil hal baik dari proses “merencanakan”. Sebab itu memang bagian dari hidup.

*memenuhi tugas Komunitas Penamerah edisi denda

2 komentar di “Tahun Depan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s