Keperempuanan dan Skripsiku

Sebetulnya aku sendiri sudah pernah menulis perihal skripsi secara detail, sampai pada akhir yang dramatis ketika memperjuangkan kelulusan itu. Mungkin di blog sebelum ini dan juga di blog ini. Aku terbiasa menulis peristiwa penting dalam hidup karena hanya ingin kutitipkan semua itu pada kertas dan masa lalu saja, tidak perlu lagi dibahas. Tapi baiklah, meskipun telat, demi komitmen memenuhi tugas Komunitas Penamerah tercinta, aku akan mengingatnya sebentar. Maaf, bila isinya mbulet.

Saat itu aku masih jadi mahasiswi labil yang bosan kuliah di tahun ketiga. Karakter dan cara berpikirku waktu itu sedikit kelaki-lakian, atau sangat “feminis”—wanita dengan obsesi kesetaraan gender, dan saat itu juga aku sedang asyik-asyiknya belajar banyak hal, kerja, organisasi, dan cenderung anti dengan pernikahan, juga yeah… enggan dengan laki-laki. Seingatku seperti itu. Maksudku, selama mereka tak menghargai wanita, maka wanita tak harus menghargai mereka.

Waktu itu aku berpikir bahwa menyukai seseorang itu nggak sama dengan menikahi. Mencintai tidak bisa direncakan seperti pernikahan. Aku pernah baca cuplikan ini di sebuah buku dan menyetujuinya.

Menikah di negara berkembang bagiku sama saja dengan bunuh diri karena bakal tidak sesuai dengan nilai-nilai feminisme (parah banget ya :|). Sedangkan ide-ide feminisme terlihat lebih riil daripada pernikahan itu sendiri, maka skripsi pun kuperjuangkan yang bertema perempuan, sesuai dengan passion-ku dan juga dilatarbelakangi sedikit rasa dendam dengan sejarah patriakhat Indonesia, terutama yang dimulai pada zaman feodalisme dan kolonialisme. Saat itu novel yang kukaji kebetulan adalah novel favorit, Bumi Manusia karya Pramoedya AT. Sejak draft skripsi itu terlintas di pikiran—di tahun ketiga kuliah—akhirnya skripsi pun selesai setahun kemudiannya. Tentunya setelah melewati masa-masa bertarung dengan banyak hal, riset sana-sini, dan gonta-ganti judul.

Meskipun rasanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia memang tak banyak yang ingin tahu atau peduli perihal emansipasi, aku tetap tertarik dengan perihal feminisme dan perjuangan menyetarakan, meskipun dengan caraku sendiri. Dan saat itu, dengan keringat, pikiran, air mata darah (kalau ini sih lebay) akhirnya berhasil merampungkan 103 halaman skripsi bertema perempuan, memang tidak sebanyak yang aku rencanakan.

Yeah, tak banyak juga yang ingin kuingat di tahun-tahun menyusun skripsi itu, tapi setidaknya aku mengerti dua hal: betapa pentingya menjadi perempuan secara penuh, dan betapa berantakannya skripsiku dulu. Kenapa nggak jadi editor dari dulu aja sih? -____-. Baiklah, semua itu ada waktunya sendiri-sendiri.

Hal yang berat waktu itu adalah melawan sifatku sendiri yang ingin “segalanya harus sempurna” karena setelah dijalani, ternyata mudah. Huft. Rasanya aku kurang maksimal mengerjakan skripsi, sekalipun dapat nilai A. Pendadaran juga berlangsung lancar. Segalanya mudah dan tak sesulit yang dibayangkan. Atau memang karena semua itu sudah sangat lama dan sudah selesai…? Skripsi itu mudah. Yang tidak mudah cuma birokrasi kampusnya. Sialan. Ya sudahlah.

Malam ini usai bongkar-bongkar skripsi, pikiranku jadi melayang-layang. Teori Naomi Wolf sampai Friedrich Engels berputar-putar di ingatanku. Yeah, kesetaraan gender masih jadi hal sensitif dan penting di benakku. Hanya saja sekarang sudah agak berdamai dengan nilai-nilai pernikahan. Rasa dendamku dengan zaman feodal dan kolonial terkait dengan perempuan pun terobati dengan kehidupan di sekitarku, terutama keluarga. Demi hidup normal, terkadang kita memang harus menutup mata dari hal-hal yang buruk dan kekhawatiran yang tidak-tidak.

Dan kini, aku berpikir, mencintai sebenarnya bisa sejalan dengan rencana pernikahan di masa depan. Sekalipun itu tak mudah.

Yeah, kau tahu, berdamai dengan ideologi pernikahan adalah perjuangan yang sungguh merepotkan, seperti memilih agama. Itu butuh waktu dan perenungan yang amat panjang. Yang rupanya jauh lebih rumit daripada garap skripsi (haha, jadi curhat deh…)

 

 

Berikut adalah beberapa potongan halaman skripsiku waktu itu.

bagian abstraksi.

bagian abstraksi.

waktu itu, masih berkeyakinan kalau "stereotip" adalah salah satu penyebab deskriminasi terhadap perempuan.

waktu itu, masih berkeyakinan kalau “stereotip” adalah salah satu penyebab deskriminasi terhadap perempuan.

sepenggal tentang keadaan perempuan di zaman feodal dan kolonial

sepenggal tentang keadaan perempuan di zaman feodal dan kolonial

wanita banyak menjadi "objek" di beberapa karya sastra lainnya.

wanita banyak menjadi “objek” di beberapa karya sastra lainnya. Baik secara minor maupun mayor

tentang diskriminasi terhadap permepuan di masyarakat

tentang diskriminasi terhadap perempuan di masyarakat, secara umum

ya ampun, kok bisa nulis kayak gitu ya dulu? =))

ya ampun, kok bisa nulis kayak gitu ya dulu? =)) Oh tentu saja dong, para bule zaman kolonial juga punya sejarah diskriminasi yang parah di wilayah jajahannya.

novel "Bumi Manusia" cukup menyedihkan bagiku :(

novel “Bumi Manusia” cukup menyedihkan bagiku 😦

Halaman "motto", quote Mahatma Gandhi paling kusuka waktu itu. Yeah, sebab substansi dari feminisme tetap saja ke arah "memanusiakan" , terutama terhadap perempuan

Halaman “motto”, quote Mahatma Gandhi paling kusuka waktu itu.
Yeah, sebab substansi dari feminisme tetap saja ke arah “memanusiakan” , terutama terhadap perempuan

*Untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah

Iklan