rinai

kurekam percakapanmu semalam, sayangku
aku diam mengamati bulan, menghirup wangi rumput, dedaunan, dan embun
juga menilik gesturmu dari kejauhan
hingga jejak angin dan bunga yang kau letakkan di tanganku
digawai rinai dan puisi yang kehilangan metafor
barangkali hanya sebait: la pluie, yang sayup terdengar di sepanjang jalan
berdesakan dengan waktu, dan lalulalang
–mendahului malam
dan perjalananku, sayangku, berpulang di pucukpucuk jarak
di perbatasan rindu
ke arahmu