sel kanker

Aku bangun pagi ini dengan berhasil mendahului ayam. Entah mengapa sepertinya semalam tidak tidur cukup nyenyak. Tidak bisa tidur lagi akhirnya aku bergabung dalam kesibukan di dapur.
Jika pagi menjelang, aktivitas akan banyak berkumpul di dapur. Seperti rutinitas yang bekerja secara alami.

Refleks Ibu menyalakan kompor, memasak sesuatu. Refleks, Bapak akan menyetel musik instrumental Sunda—yang membuat kita semua serasa sedang tinggal di Bandung. Refleks aku membuat kopi. Refleks si tengah akan menyeduh teh, refleks si bungsu mengambil air putih dingin di kulkas. Tapi aku dan si tengah pasti akan ngobrol di sela-sela itu.

Dan seperti biasa, adikku ini akan men-share informasi yang ia temukan baru-baru ini, yang rupanya kepikiran ingin dikempanyekan pada banyak orang sejak menjenguk salah satu temannya yang terkena kanker.
“Pola makan dan stress,” begitu ceramahnya “berperan besar dalam pendukung tumbuhnya sel kanker, pada wanita berusia di atas 25.”

Yeah, memang hidup di zaman modern, seperti hidup di atas berbagai kekhawatiran. Bagaimana kita bisa terbebas dari makanan berbahan kimia berbahaya? Sementara kemodernan membuat kita sulit menemukan makanan organik yang bebas dari bahan-bahan kimia penyebab kanker. Yeah, ngomong-ngomong sial stress, satu hal itu adalah yang sering terjadi padaku, kapan pun dan di mana pun itu. Tapi bersyukurnya aku lahir dari keluarga yang tidak memiliki sejarah kanker, dari ibu yang sehat walafiat (insyaallah). Meskipun tidak dapat dipungkiri kita memiliki potensi itu di dalam tubuh (I mean sel kanker), hanya saja pola hidup akan membuat itu berkembang atau tidak. Semuanya memang kembali kepada diri sendiri.

“Itu… berhenti deh makan ceker ayam, bagian yang paling banyak terkena residu bahan kimia tuh justru di bagian kaki,” tambahnya.
“Tapi kan konon penderita kanker itu termasuk orang-orang yang dihitung masuk surga lho,” Aku mulai membanyol.
“Enak aja, tergantung amal dan perbuatan lah. Kalo perempuan melahirkan dan meninggal jelas itu bakal masuk surga.”
“Eh, bener kok. Aku pernah baca itu. Coba googling deh.” Aku nyengir kuda,
Dan adikku manyun. Susah ngomong sama orang ini, begitu barangkali pikirnya.

:p

(ya jelaslah, aku bakal ngulik soal info itu, nanti bila sempat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s