tragedi micro SD

Menyedihkan hari ini adalah ketika micro SD yang menyimpan data-data foto berharga sejak 4 minggu yang lalu akhirnya nggak kebaca. Tidak cuma moment jalan-jalan bareng, tapi isinya juga foto-fotonya yang kuambil ketika kami liburan bersama ibu-ibu di keluarganya, foto keluargaku kemarin hari, juga beberapa karyaku, foto langit sore dengan tiga warna yang tak sengaja kutemukan, kontemplasi malioboro dengan gedung-gedung tua, foto jalan-jalan bareng temen-temen kantor, dan banyak lagi…

Sungguh sial nasibku. Kehilangan yang cukup ngenes. Rasanya seperti habis kehilangan sefolder karya tulis yang disusun berbulan-bulan.

Bagaimana bisa micro SD sudah lama rusak, dan aku baru ngeh soal itu hari ini? Aku tak tahu apa yang harus kujelaskan. Aku juga nggak tahu harus bagaimana. Aku ingin menepi saja sementara waktu, mencoba berdamai dengan kebodohanku sendiri. Berdamai dengan rasa sedih dan menyesal yang mengikutinya juga.

Hm.. Tapi aku lupa, aku bersama seseorang, yang cenderung tidak pernah membiarkanku berlaku aneh-aneh lagi semacam menepi sendiri seperti laba-laba kelaparan di gudang. Si dia akan menanyaiku sampai betulan mengaku. Padahal yang kulakukan bukan menyembunyikan, melainkan menunda bercerita. Aku gagal menyimpan sedihku malam ini, dan akhirnya dengan perasaan malu, sedih, berantakan, nggak enak, ragu-ragu, dan lainnya, aku mengatakan hal yang seadanya.

Mungkin dia melongo ketika kujawab itu. Sayang ngomongnya cuma di telepon. Aku jadi berpikir yang nggak-nggak kalau tidak melihat muka langsung…
“Yakin cuma itu?” dia memastikan.
“Iya…”
“Astgfirullah…”
“Maaf Mas, aku nggak bermaksud….”
“Bukan itu”
“Terus…?”
“Inget kan yang Mas bilang kemarin. Belajar ikhlas. Kirain apa… Kalo cuma itu nggak papa… Toh ini bukan human error.”

Kemudian terobati sebagian edan di benakku.

Mulai tenang dengan kelonggaran semacam: bahwa kenangan bisa disusun ulang lagi walaupun tidak sama, tapi pasti akan ada view dan moment yang juah lebih indah dari sebelum-sebelumnya. Kedua, bahwa aku bisa belajar untuk segera memindah data untuk mengantisipasi, dan ketiga setidaknya dia memiliki foto-foto cadangan acara keluarganya 2 minggu lalu yang direkam dari kamera DSLR-nya, yang tentunya jauh lebih berkualitas hasilnya. Dan keempat, barangkali ini jalan pembelajaran untuk lebih menghargai hal-hal yang kutemukan setiap saat.

Yeah, kurasa aku hanya sedang berpikir sempit hari ini. Atau mungkin karena sedang sindrom PMS, segalanya terlihat tak ada yang tidak kacau. Namun di balik itu semua, di hadapan orang-orang yang peduli juga menyayangi, jarang juga aku bisa bersikap masuk akal. Entah kenapa.

2 komentar di “tragedi micro SD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s