[Berani Cerita #1] Sekali Ini Saja

Cilacap, 1989

Aku mencintai Rusman sejak masih sama-sama SMP. Kami bersahabat sejak kecil. Hanya saja, kebetulan aku berhenti sekolah karena orang tuaku tak mampu membiayai, sedangkan ia melanjutkan hingga SMA, hingga menjadi seorang tentara 2 tahun kemudian.

Seorang tentara di kampung halamanku sangat disegani. Tak peduli apa pangkatnya. Orang berseragam akan memiliki kedudukan yang dihormati. Berkali-kali juga aku tak percaya diri. Namun dalam surat-suratnya, dia selalu mengatakan bahwa kami akan bersama. Maka aku yakin dan setia menunggu. Aku percaya, sekalipun sering terdengar gosip miring tentangnya. Tapi itu setahun yang lalu, sebelum ia benar-benar berhenti mengirimiku surat.

Aku kehilangan kabarnya, rupanya ia menikah diam-diam dengan seorang perawat. Dengan sahabatku sendiri—Rukmini. Ada yang bilang bahwa mereka sudah lama bersama diam-diam di belakangku. Aku paham. Siapa yang tidak bangga beristri perawat?

Pernah suatu sore, ibu Rusman bercerita pada para tetangga, bahwa ia bangga anaknya menjadi tentara, kelak akan dinikahkan dengan seorang yang setara. Bukan denganku. Itu yang kudengar dari ibuku.
“Mestinya kamu ngaca, sebelum kamu nikah sama tentara,” begitu kata sahabatku Rukmini, yang setahun setelahnya menikah dengan Rusman. Aku sedih. Tak pernah menyangka. Tapi aku pasrah dan sadar diri.

Apakah sebab aku hanya anak seorang penjual ikan, maka ia meninggalkanku? Bahkan tak menjelaskan apapun padaku.
Maka, kuputuskan sekali ini saja, tak akan lagi aku menoleh ke belakang.

Berkali-kali Simbok mewanti-wanti. “Jangan sama tentara Nak, ingat, kamu gak setara.” Betapa kami seolah ditakdirkan untuk dihina.

“Iya, Bu. Aku nggak akan mencari yang tentara. Aku akan cari yang setia, menerima apa adanya, bertanggung jawab. Pekerjaan apapun bukan masalah. Yang penting mencintaiku.”

Aku menitikkan air mata.

Cilacap, 1992

Tiga tahun berlalu, masa lalu tentangnya sudah jauh-jauh kulupa. Bahkan aku sempat membenci tentara. Tentara bagiku adalah pria-pria palyboy yang hanya bisa mempermainkan perempuan. Tentara juga yang telah menculik Kakek tahun 60-an dan tak kembali sampai hari ini. Aku benci aparat berseragam. Sebab mereka yang pernah menggusur warung ikan milik Simbok. Aku benar-benar lelah membenci sampai kemudian berdamai dengan kondisi.

Tiga tahun aku menutup hati, hingga aku bertemu seorang pria yang mencintaiku apa adanya. Aku juga tak lagi mempermasalahkan apa latar belakang profesinya. Pemulung sampah sekalipun. Begitu juga dirinya. Ia bahkan mencintai keluargaku. Ia menyayangiku dengan hormat meskipun aku hanya anak penjual ikan.

“Apa kamu mau jadi istiku? Menerimaku apa adanya? Meskipun aku hanya seorang pelayan?” Begitu ia melamarku kala itu. Aku tak tahu persis apa pekerjaannya, yang kutahu setiap akhir pekan ia meminta diri untuk membantu membawa dagangan simbok dan ayahku ke pasar. Dan saat itulah aku yakin, dia mencintaiku. Bukankah perempuan mencintai pria yang terbiasa mendekat?

Yogyakarta, 1993
Tak menyangka hari itu datang juga. Aku bahkan tak percaya memakai kebaya ini. duduk di sampaing seorang pria yang sudah setahun lebih kukenal tapi tak pernah kupedulikan apa profesinya.

Mobil pengantinku sampai di gedung, dan entah bagaimana tiba-tiba aku melihatnya—mantan pacarku—Rusman. Dia membungkuk dan membukakan pintu mobil seraya menatapku terkejut, seakan tak percaya. Yeah, aku sudah memaafkan, sehingga aku pun hanya tersenyum sekilas dan menghela napas, sekalipun juga sama terkejutnya. Sebab rupanya, aku menikahi komandannya.

gambar dari google image

gambar dari google image

Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.

 

Iklan

5 thoughts on “[Berani Cerita #1] Sekali Ini Saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s