Tepi (4)

Beberapa hari ini merasa berloncatan dalam diam. Dari satu hal ke hal lain. Perjalanan seperti halnya mengunjungi lapis dari lapis kesadaran, lalu berpindah dari rasionalitas ke dalam imaji yang begitu jauh dan luas. Sesaat kembali lagi dalam realitas, lalu terjebak lagi ke arah renungan dan hal-hal di luar kenyataan, begitu seterusnya. Beberapa kali berjarak dari diri sendiri, beberapa kali juga orang-orang di sekitarku dengan seperangkat ritmenya menarikku supaya menyadari pijakan. Secara sederhana. Sebab setiap aku berjalan jauh, saat itu juga aku merasa menciptakan jarak. Dan semakin aku berjarak, bumi seperti selalu menciptakan kerekatan.

Hei, bahkan dengan cara-cara sederhana yang tak sempat lagi terpikirkan tapi cukup melonggarkan jiwa.

Seperti biasa, ketika kuyakini hidup telah berada pada keteraturan ke arah yang terbaik, tiba-tiba kenyataan selalu datang dalam waktu yang tiba-tiba menghadirkan sekumpulan anomali. Tapi yang kulihat dunia berputar tidak selalu dalam ketepatan, kadang dalam kehancuran. Bisa dalam keabsurdan, dan sering pula dalam hal-hal yang sempat dipikirkan. Bukankah sebetulnya sederhana—kita memiliki patokan, alam juga memilikinya sendiri, Tuhan terlebih lagi. Sekalipun ketiganya sering berkaitan. Keterpisahan yang terkait.

Kita menghindari nasib, tapi menjalaninya dengan tanpa pilihan, sama halya dengan kita menghadapi pilihan tapi memilih diam dan diam-diam berharap memilih semua pilihan. Dan nasib berjalan juga dengan cara-cara yang dimiliknya.

Indah, sekaligus misteri. Bagi yang menggunakan hati dan merasa dapat menakar pun tak akan terhindar dari rahasia-Nya. Setiap hal menyimpan rahasia, begitu juga dengan rahasia yang tengah aku ceritakan ini. Tentu tak akan serta merta dipahami.

Lalu kubiarkan hal yang kulakukan keseharian berada pada kenyataan yang kujalani dan hal-hal di luar itu sebagai sahabat maya yang kucatat tanpa perlu dibagi karena hanya aku sendiri yang mengerti. Namun aku cukup lega. Hidup yang sederhana barangkali demikian: di mana pun kita berkelana dalam kesendirian, selalu ada orang-orang di dekat kita yang selalu memegang tangan—sadar atau tidak—untuk kita merasa kembali….

Tapi rasanya aku bukan pejalan. Jika pejalan dikatakan seperti pada puisi Kuntowijoyo dengan: rumah para pejalan tidak berada di sini, melainkan di dasar mimpi. Sebab aku berumah di sini juga dalam mimpi. Dalam keduanya, atau malah bukan dua-duanya.
Aku hanya tinggal melanjutkan jalan, dan segalanya memang sudah berada di lapis kesadaran yang terbaca, pada hidup yang tak lagi seabsurd remaja.

 

macro-photography-art-gallery-6063

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s