Mengurai Ke”aku”an

Sudah di hari keempat tahun ini. Masih menemukan orang-orang di sekitarku mempertanyakan siapa hakikat “aku”—“diri mereka.” Entah dalam obrolan iseng lalu lupa atau berpusing pada akhirnya. Kadang beruntung mereka yang sudah yakin atas hidup yang dijalaninya dengan segenap apa-apa yang dipersepsikan tentang dirinya itu, sehingga tak perlu mencari lagi. Segala keterbatasan adalah cukup. Dan memiliki serangkaian hidup ini adalah bagian dari takdir. Mau lari? Gak ingin juga. Mana bisa kan orang lari dari dirinya sendiri?

Tapi ada banyak juga di dunia ini yang masih mencari “aku” dalam dirinya sendiri. Melalui salah satu SMS teman yang mengatakan bahwa dia masih pusing soal obrolan “hakikat aku” waktu itu. Aku tersenyum. Sebetulnya aku pun juga masih mencari soal itu. Bukankah keberadaan manusia adalah saling menyesatkan satu sama lain? Bukan tidak pernah bila aku, engkau, kita semua, pernah mengalami dianggap sebagai sosok dalam konsep pikiran orang lain, atau identifikasi dari seseorang di masa lampau. Tapi begitu kita bukan orang yang dia pikir, kemudian ditinggalkan. Bahkan kita sendiri, mencari dan mengenal seseorang melalui konsep “manusia” dalam imaji dan alam pikiran sendiri. Bukan seseorang sebagai seseorang itu sendiri. Sebab kita takut kecirikhasan kita sendiri pun akan membuat kita kehilangan keber’ada’an di antara banyak orang lain, maka seringkali kita berlaku seperti orang lain. Memang sih fenomena seperti ini banyak dialami remaja daripada yang sudah tua. Berpakaian sama seperti teman kelompok, seolah-olah sependapat, dan seolah-olah sama hobi dan kesukaan, dan masih banyak lagi. mengikuti mode yang aslinya diciptakan satu orang/satu negara saja kadang membuat seseorang menjadi mirip orang lain. “Orang lain” dalam hal ini adalah lingkungan yang akhirnya menjadi satu-satunya tolak ukur setiap “aku” dari kita semua.

Aku sempat curiga bahwa selama ini kita hanya meng-ada-kan orang lain dalam rangkaian materi—lapisan terluar. Materi dapat diartikan apa-apa yang dia punya. Apa yang terlihat, entah itu penampilan, sifat, kebiasaan, hingga pada cara berpikir yang diperkenalkan kepada orang lain. Tidak pada perasaan—dalam ajaran jawa.
Sementara kebebasan menjadi “aku” seutuhnya membawa dampak yang sungguh besar terhadap banyak orang (“aku-aku”) di luar diri kita.

Jangan-jangan Sartre benar, bahwa kita dikutuk untuk menjadi bebas. Sebab kebebasan memang bagian dari kutukan. Sebab Tuhan tidak terlibat dalam keputusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan. Karena kebebasan itulah manusia menjadi bertanggung jawab atas semua hal. Sartre selalu menekankan otentisitas dan individualisme manusia tanpa syarat apapun. Namun eksistensialisme Sartre adalah perluasan dari manusia sebagai paling benar apapun yang dilakukan tanpa pertimbangan baik buruk terhadap hal yang melingkupinya. Sebab bagaimana pun kebadaaan manusia terkait dengan implementasinya terhadap lingkungan.
Eksistensialime mengarah pada kebebasan mutlak, namun tidak pada individualisme yang membawa segala aspek, dari faktor asal/keturunan sampai proses tumbuhnya. Sekalipun eksistensialisme ini berpusat pada kebenaran yang bebas.

Bukankah tidak jarang juga kita dikenal karena kedua orang tua kita misalnya, atau dari nenek moyang atau asal kebudayaan? wajah adalah perpaduan kedua orang tua kita. kita menjadi tahu hanya karena kita mencari tahu, bukan menciptakan secara orisinil. Golongan darah kita sama dengan orang tua. Cara hidup kita terkait juga dengan di lingkungan mana kita hidup.

Kita juga sering menemukan pria atau wanita mencari pengganti mantan pasangannya dengan wajah yang mirip atau minimal memiliki kesamaan, haha. Mereka berharap orang yang baru dapat menggantikan atau malah lebih baik, dan bukannya menyadari bahwa setiap orang memiliki ciri khas yang saling berbeda, semua adalah produk orisinil, setiap orang adalah individu, yang kelihatan sama hanya “kulit” luarnya sehingga butuh bertahun untuk mengenali dan menggali karakternya. Itulah mengapa benar bila satu orang yang memilih mencintai satu orang dengan sepenuhnya kedirian di masa lalu, maka selayak ia mencintai banyak manusia (pria/wanita) yang lain yang memiliki kesamaan pada waktu yang berkelanjutan. Tapi esensinya ia tetap mencintai satu orang tersebut. Itulah mengapa ada istilah terjebak pada masa lalu/masa depan dan sulit kembali.

Seperti yang selalu aku yakini sejak dulu—tiap individu hanya mempunyai satu pasangan hati. Entah apa pun bentuk materialnya, seberapa banyak mereka yang hidup bersama, atau siapa pun yang kelak disandingnya. Aku jadi mikir, bagaimana bila dari awal kita mencintai satu hal, Tuhan, maka benar mereka yang meyakini bahwa mencintai Tuhan akan mencintai Tuhan pada entitas yang lebih detail dalam kehidupannya, yang terpecah menjadi banyak hal kecil: ciptaan-Nya. Dan kita tak lagi memandang materi apa yang membatasinya.

Agak rumit memang ketika ke”aku”an bisa jadi hal yang melebar kemana-mana…. Mengapa di dunia ini ada kita yang pusing soal ke”aku”an, dan ada juga kita yang tetap hidup tenteram bahagia tanpa mempertanyakannya?

Atau jangan-jangan lebih mudah bagi kita untuk saling ada dengan bekal keyakinan saja. Kita yakin kita semua baik, saling sayang, dan perhatian, maka kita bersahabat. Kita saling peduli dan bersetia maka kita mencintai, tanpa lagi bertanya apa-apa soal citra diri kita terhadap dia atau mereka. Asal saling menerima kekurangan dan damai tenteram sejahtera.

Meskipun kita juga sering hidup dengan cara orang lain atau sebagai orang lain, dan lupa menjadi diri sendiri…
hm.. tapi aku pun sering merasa hal yang sama yang dialami Satre dan satre-satre lainnya, bahwa satu manusia bisa menjadi neraka bagi manusia lainnya.

#tulisan ini juga terinspirasi dari beberapa upacara adat yang sempat kuamati di lingkunganku.

dari google image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s