Tera

Kamarin, tawamu masih begitu jelas di ingatanku. Seperti biasa, bila ada masalah kau akan megajakku di bertemu di kafe, dan kau biarkan aku dulu yang bercerita. Kamu kadang aneh dan tak tertebak. Kamu yang pengin ketemu, aku yang disuruh cerita dulu. Namun itu tak masalah. Akhir dari moment nongkrong kita pasti selalu berbentuk tawa.

Aku bersyukur, bertahun-tahun sejak kita bertemu waktu SMP, sampai sekarang kita tetap bersahabat. Kamu pendiam, dan aku tak bisa diam. Kamu rapi dan sempurna, aku berantakan. Kamu genius matematika dan mata pelajaran lain, sedangkan satu-satunya keahlianku cuma memainkan gitar. Aku tomboy sedangkan kamu begitu manis dan feminin. Memang benar yang namanya sahabat, sekalipun berbeda banyak hal, masih saja mau saling menerima.

Malam itu, tiba-tiba kau bilang bahwa kedua orang tuamu akhirnya bercerai. Aku bersedih untukmu. Tapi kau tak menangis. Seolah sudah terbiasa menerima kepahitan yang serupa. Justru aku yang menangis. Aku tomboy, tapi hanya tampilan luar.
Rasanya baru kemarin, kamu minta aku mengiringi nyanyianmu, lagu yang kau suka, dan kau dengarkan setiap akan tidur di malam hari.

Ucapkan salammu
Pada bulan dan bintang
Mereka yang setia
Menjagamu tidur

Malam kemarin di kafe, kau memang tak seperti biasanya. Kita memesan cokelat ketiga, akhirnya saling mengingat kekonyolan masa SMP, yang sudah kita bicarakan ratusan kali, agar kau pun teralihkan dari duka yang membuatmu banyak diam beberapa hari ini. Kamu tidak pernah bisa tidur tanpa ditemani, hingga akhirnya aku mengajarimu berdoa dulu sebelum tidur, hal yang mestinya diajarkan orang tuamu sejak kecil.

Aku ingat ketika kamu membenci pelajaran Bahasa Indonesia dan kugambarkan karikatur pria botak mirip guru kita, dan kau tak bisa menahan tawa. Aku ingat kau tahu aku benci pelajaran Sejarah, dan kau menggambar manusia purba mirip guru kita, dan aku tertawa terbahak di tengah pelajaran, gambarmu lebih bagus. Dan aku simpan itu sampai sekarang.
Ah, kenangan yang begitu melekat, sebab kau sahabat pertamaku, dan selamanya.

Kini obrolan kita sudah mulai seputar cowok. Tapi kali ini kau lebih banyak mendengar curhatanku tentang seorang cowok yang tengah kusuka di kelas tapi yang paling sering kucaci-maki.

Kau tersenyum sekilas. Dan kembali kita berbicara tentang bagaimana seharusnya kau menyikapi perpisahan kedua orang tuamu. Tampaknya ada sesautu di matamu yang seperti tak ingin kuketahui.

Lalu gerimis datang. Malam sudah pekat. Waktunya kita tidur. Kau menolak menginap di rumahku, maka kubiarkan kau pulang sendirian. Dan aku sungguh kepikiran semalaman. Entah mengapa perasaanku tak nyaman. Hujan semakin deras. Aku semakin gelisah. Kau tak mengabariku seperti biasa, sekadar mengatakan sudah mau tidur dan sudah berdoa.

Hingga kudengar kabarmu, beberapa saat yang lalu melalui telepon. Kau dalam perjalanan ke rumah sakit. Segores luka di pergelangan tanganmu, juga dengan darah yang berceceran ke mana-mana. Ibumu bercerita lewat telepon dengan terbata. Hatiku mencelos. Aku berlari menelusuri sepanjang jalan yang seolah begitu jauh. Ada pedih yang ikut tergores di sana. Sampai di rumah sakit, aku berlari menuju lorong ke arah UGD, yang juga begitu jauh… dengan perasaan tak karuan.

Apa yang kau lakukan Tera? Pisau? Luka sayatan di pergelangan tangan kirimu.. aku tak mengerti. Apa kau tengah melakukan hal bodoh? 

Aku sampai di depan UGD. Ibumu menangis di salah satu kursi. Aku duduk di kursi lainnya, di sampingnya. Tak ada yang bicara satu sama lain, selain isak tangis perlahan. Lampu menyala, kau masih ditangani di dalam sana. Kau dengar aku Tera? Aku di sini menenamimu. Aku tak akan lagi kemana-mana.
Dan sayup-sayup terdengar lagu kesukaanmu bergema di hatiku….

Ucapkan salammu
Pada bulan dan bitang
Mereka yang setia
Menjagamu tidur

Semoga nyenyak tidurmu
Dihiasi mimpi indah…

Hingga lampu padam, dan seorang dokter yang menanganimu keluar dengan wajah yang sungguh tak ingin kulihat.

Tulisan ini adalah hasil tugas GWA ke-2 tulisan yang pertama.

Satu komentar di “Tera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s