Tamu

-Sebuah Cerita Pendek

Pagi sudah menjelang. Sayup suara burung gereja bersenandung di atap-atap kamar. Aku berusaha mengingat mimpi. Sudah mimpi keempat aku bertemu pria yang sama. Dalam wajah yang semula samar. Lalu begitu jelas gestur dan raut wajahnya. Entah siapa dia. Ah, barangkali aku kecapekan. Setiap hari, hampir sejak pagi hingga malam menjelang tidur aku dihajar pekerjaan.

Aku cukup tak mempercayai hal-hal abstrak semacam mimpi. Meskipun seorang teman sempat begitu antusias menjelaskan bahwa mimpi itu ada hubungan dengan dunia nyata. Dia mengatakan bahwa bisa saja itu jodohku nanti. Dia bahkan berani sumpah. Dan aku hanya tertawa.

Mimpi hanya bunga tidur, pikirku. Dan aku lebih percaya bahwa harapan kita di alam bawah sadar secara tak sengaja terekam dalam mimpi. Tapi itu jelas hasil pemikiran. Obsesi. Sedikit khayalan.

Barangkali pada suatu saat di masa lalu, aku sempat memikirkan satu wajah pria yang bagiku ideal untuk diimpikan. Dalam kehidupan nyata memang aku tak pernah menemuinya. Mimpi pertama, pria itu memberiku bunga. Mimpi kedua ia membawa sepasang merpati putih. Mimpi ketiga, ia mengajak jalan-jalan di suatu tempat, juga ngobrol dalam bahasa mimpi. Mimpi keempat pria dalam mimpi itu mengatakan bahwa ia suka musik jazz. Tapi namanya juga mimpi, sehari kemudian, semua itu sudah terlupa. Anehnya, sekarang, aku mengingatnya lagi, menghubungankannya.

Lamunanku terhenti ketika bel pintu rumahku berbunyi nyaring. Rasa kantuk masih menguasaiku. Mungkin tukang antar susu. Tapi kenapa sepagi ini datangnya? Aku segera berlari ke ruang depan dan membukakan pintu dengan malas.

Sesosok pria berdiri di hadapanku. Memandangku sambil tersenyum, memamerkan derertan giginya yang putih.
“Hai. Mau sarapan bareng?”

“Eh? Kamu? Kamu?” Mulutku terasa terkunci. Antara percaya atau tidak, pria dalam mimpi itu kini ada di depan mataku. Butuh beberapa menit memercayai penglihatanku. Alih-alih mengatakan ya atau tidak, aku malah bengong. Kantukku tiba-tiba lenyap.

“Siapa kamu? Kenapa bisa ada di dunia nyata?”

“Apa? Dunia nyata?” pria itu malah heran. Tapi ia langsung menyadari. “Oh ya lupa. Kenalkan saya Abid. Baru saja pindah depan rumah kamu. Maaf ya bikin kaget pagi-pagi.”

Aku menjabat tanganya dengan gugup dan kalut. Mungkin aku sudah mendadak gila.

“Nama kamu?”

“Aku… aku, Maricia Zaska. Eh.. biasa dipanggil Caca saja. Lalu kenapa tiba-tiba kamu ingin sarapan bareng?”

“Aku… sekalian sambil kenalan. Jadi, apa kita bisa sarapan bareng? Di depan sana ada bubur ayam sepertinya.”

“Iya. Oke,” aku buru-buru mengambil sandal. Sampai jalan kompleks, aku baru sadar bahwa aku masih memakai piyama dan rambut acak-acakan. Orang-orang yang sempat melihat kami, melirikku dengan aneh. Barangkali mereka pikir, aku ini pasien RSJ, yang diajak jalan-jalan seorang perawat yang ganteng dan rapi.

“Jadi kamu baru pindah ke sini?” tanyaku memecah keheningan.

“Yap, aku dari Blora, baru pindah dua hari yang lalu dan tinggal sendirian.”

“Dalam rangka?”

“Pindah tugas,” jawabnya singkat.

Pria itu memesankan teh hangat untuk kami berdua. Sementara deru kendaraan semakin ramai, begitu juga dengan denyut jantungku. Aku masih tak mempercayai bahwa mimpiku menyiratkan semacam pesan. Ini pasti hanya kebetulan. Tapi aku benar-benar seperti digulung-gulung oleh kondisi. Ini situasi yang lucu dan agak konyol memang. Aku didera perasaan antara heran, lucu, sedikit ngeri, dan entah apa lagi. Sampai tak terasa bubur di depanku habis, kami tak banyak bicara.

“Apa kamu juga suka musik jazz?” teringat mimpi yang terakhir, sekadar ingin menguji hal aneh ini.
Ia tersedak. “Lho, kamu kok tahu aku suka musik jazz?”

“Kok bisa betul?” aku terperanjat.

“What?”

“Berarti yang kamu bilang waktu itu benar, ups.” Aku mencari kosakata yang pas agar dia tak mengaggapku edan. “Maksudnya barusan waktu masih di jalan.”

“Memang tadi aku bilang aku suka musik jazz?” ia masih terlihat heran.

“Sepertinya begitu, hehe….” Berhentilah tolol Ca, kataku dalam hati. Aku mengaduk es teh yang kupegang, padahal sudah kosong.

Pria itu tertawa kecil. “Kamu lucu juga ya. Kapan-kapan, kalau kamu nggak keberatan, kita sarapan bareng lagi ya?”

“Siap.”

Entah mengapa, hari Minggu ini rasanya begitu indah.

Karya ini hasil tugas GWA kedua, tulisan kedua, yang dikirim email, sebagai salah satu kegiatan iseng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s