Senja di Pantai

Pantai itu ramai seperti hari-hari libur akhir pekan. Setiap menjelang senja tiba, orang-orang akan berkumpul di sana. Beberapa ada yang menghidupkan kamera, ada juga yang bersiap mengambil gambar. Ada juga yang hanya duduk dan ngobrol. Pantai itu telah dikenal orang menyimpan senja paling rupawan daripada tempat-tempat lain. Terkadang pantai itu pun dijadikan lokasi prewedding.

Senja di pantai ini, pada suatu hari di masa lalu, sempat menjadi saksi impianku, tentang mencintai hingga maut menjemput, tentang masa depan yang saling setia, tentang dia yang tak tergantikan. Tentang pertama kali aku menemuinya. Tentang saat-saat saling mencintai kemudian tak lagi bersama. Senja ini yang akan selalu kutemui sejak ia tak di sini.

Senja di pantai itu seolah memiliki warna yang tak tergantikan waktu-waktu lain. Mereka yang berkunjung menikmati setiap kesiur angin serta bau khas lautan. Menambah romantis suasana pantai tatkala beranjak malam. Semua orang barangkali setuju, bahwa senja selalu saja menyimpan seribu rahasia dan keindahan. Ada yang tak ambil pusing, sebab senja hanya semacam hiasan selayak karang dan buih. Namun ada yang hidupnya habis memandangi senja setiap sore tiba. Sebab ia begitu berbeda setiap hari, juga berbeda makna pada setiap yang memandang. Seperti sekarang, aku melihat senja begitu misteri di ufuk Pantai Parangtritis. Namun senja ini, tetap misteri. Tatkala aku melihat ada separuh hati yang tersisa.

Senja yang menjadi saksi bisu keputusanku. Senja yang berhari-hari setelahnya menemani kesunyianku yang begitu kuat mengiris. Senja yang membuktikan dirinya bahwa tidak hanya warnanya saja yang terasing dari luasnya warna langit, tetapi juga tentang kesendirian yang sudah mulai kujalani.

Di pantai ini senja semburat jingga, menemani kesunyianku. Menemani sepanjang hidupku. Bola oranye menyala yang senantiasa menggantung di antara awan kelabu di perbatasan cakrawala itu. Mengiris waktu, membunuhi ingatan, namun tetap saja, perasaan itu lekat, bagai senja di hati orang-orang yang mempercayainya. Sayup-sayup ombak berbisik membelai pantai, mereka dan senja berubah puisi di hatiku.

Angin menerbangkan helai rambutku. Setahun sudah kupandangi senja setiap sore tiba. Barangkali para penjual dan penduduk di sana sudah begitu hafal dengan kebiasaanku mengunjungi Parangtritis untuk menunggui senja. Entah itu akan kuambil gambar, entah itu kulukis atau kutuliskan. Seperti halnya setiap orang yang berada di sana, mereka akan menunggui momen saat surya menampilan bentuk bulat yang menyala, lalu bergerak begitu cepat seolah tenggelam di dasar samudra. Kecuali bila ia terhalang awan dan terganti gelap begitu saja. Bagiku tak mengapa. Bagaimanapun kelihatannya, ia tetap memiliki arti tersendiri bagi hatiku. Bagi sisa usiaku.

Senja dan perasaan itu, barangkali akan senantiasa ada. Seperti pantai ini, yang riuh dan damai setiap senja menyapa….

Tugas GWA tahap pertama, karya kedua:

–dikirim hari Minggu tanggal 9 September 2012, bersamaan dengan karya yang satunya, sebelum tulisan ini.–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s