Perasaan sepi: bahagia yang terkutuk

Memandang Sepi

Kesepian adalah kondisi ketika seseorang merasa ditinggalkan, diabaikan, ataupun tak tergapai. Sepi tak berarti ia sendirian. Itulah kenapa meski beramai-ramai, seseorang bisa tetap merasakannya. Seperti yang tergolong sering kurasakan belakangan ini.

Merasa kesepian memang nggak nyaman. Namun setidaknya kesibukan kerja ini mampu melarikanku dari perasaan sepi yang entah bagaimana. Tapi bila diingat-ingat lagi, bergabung dalam keramaian juga tak selalu menyenangkan, maka sepi terkadang lebih baik. Perasaan sepi juga bagian dari kebahagiaan yang kadang terkutuk. Setidaknya aku bisa sejenak beristirahat.

Aku memang suka sepi sekaligus mengutukinya. Perasaan tersingkir seperti demikian jika tidak diisi dengan kesibukan, mungkin saja rasanya seperti pensiunan. Tiba-tiba saja, seolah rasanya tak berteman.

Tapi itu semua sungguh tidak mengapa. Asal hidupku berguna, asal setiap sela tak mematikan kreativitas dan pemikiranku. Sudah bukan fenomena aneh lagi risiko pekerja sibuk adalah kehilangan hubungan sosial secara luas. Sebab mau tidak mau kegiatan sosial itu akan tersingkir perlahan secara alami, seiring semakin bertambahnya tanggungjawab karier. Banyak hal kini sudah jelas di mataku, pekerjaan monoton yang dulunya sangat kuhindari kini kadangkala menjadi penyelamat, memang tidak selalu. Mungkin saja Tuhan memang tahu, aku butuh dibebat tugas-tugas dan tanggung jawab agar tidak diam dan berpotensi menjadi gila. Tuhan sungguh tahu, aku memiliki potensi demikian.

Mendekat

Waktu tiba-tiba begitu cepat berlalu. Perasaan, baru kemarin bulan April dimulai. Mei terlalu cepat berjalan, sebentar lagi bahkan hampir berganti bulan. Dan bagiku memang begitu cepat. Ah, jangan-jangan aku terlalu menikmati kepadatan ini. Terlalu padatnya, sampai-sampai rencana-rencana kecil bulan ini tak sempat direalisasikan. Sebendel kertas HVS per bulan-ku pun sudah hampir penuh. Sudah setahunan ini aku selalu menyiapkan sebendel kertas kosong, mengumpilkan jadi satu, dan menggantinya tiap bulan. Dulu berupa buku harian. Namun sekarang aku lebih butuh banyak space, butuh banyak kelonggaran. Tak hanya menulis cerita harianku, aku bahkan perlu corat-coret, menggambar, menulis draft, puisi, info-info menarik, gagasan, dan banyak hal lagi… setiap bulan selalu saja penuh. Dan meski demikian, aku masih tak mengerti apa manfaat setumpuk kertas itu secara lebih riil.

Kini tertumpuk secara asal di sudut kamarku, belum juga kubuka ulang. Mungkin suatu saat nanti. Aku hanya masih saja berpikir demikian, tak ada waktu sedikit pun hanya untuk diam, sebab setiap saat mestinya ada perubahan. Mestinya aku telah mendekat pada tujuan. Harus ada hal baru kutemukan dan kupelajari hari ini.

Demi itu aku belajar dari banyak hal dan orang-orang. Aku beruntung memiliki teman-teman yang produktif dan positif yang masih saling tukar kabar dan informasi. Masih sedikit-sedikit bersedia berdiskusi. Juga terkadang saling memedulikan satu sama lain.

Bahagia itu…

Banyak yang bilang, bahagia itu sederhana. Tapi sejujurnya, ada dalam diriku sisi tak sederhana. Yaitu ketika aku terllau menuntut diriku untuk menjadi seperti ini dan itu. Berharap begini dan begitu, dan ketika semua itu ternyata cukup berat, aku mulai membenci diriku. Sehingga wajar bila tiba saatnya, aku merasa lelah sendiri.

Berada dalam sepi memang damai dan bahagia, tapi tetap saja, aku tak ingin berlama-lama dalam kondisi demikian.

Iklan

Catatan hari ini: Kekuatan

Hari ini, entah kenapa, aku butuh lebih banyak kekuatan dan energi.. Langkahku seakan berat. Dari apa pun juga. Rasanya seperti bisa terjatuh tiba-tiba kapan saja, padahal aku yakin aku kuat. Entah bawaan datang bulan atau memang sedang badmud, ketika menulis pun rasanya antara ingin tidur dan begadang dulu. Namun bersyukur Tuhan masih memberiku kesempatan puasa rajab hari ini dan menonton pentas musik gamelan adik-adik angkatan.

Seorang Teman yang Pergi

Sampai di kantor, tiba-tiba aku mendapat kabar duka bahwa salah satu mantan teman kerja di Mathemagic meninggal dunia secara mendadak kemarin hari. Innalillahi. Masih tak percaya, belum lama kami bertemu, seperti baru kemarin kami bekerja di kantor yang sama dan membicarakan murid-murid.

Namnya Mbak D. Bisa dibilang aku sedikit kagum dengan karakternya. Meski badannya sedikit gempal, tapi geraknya energik dan selalu ceria. Sewaktu masih kerja di bimbingan belajar, kami sering ambil lembur bersama. Dan di sela waktu, kami saling berbincang, ya sebutlah curcol. Tapi tentu saja, Mbak D yang lebih banyak cerita. Di balik sifatnya yang selalu ceria itu, rupanya tersimpan masalah yang nggak kuduga. Bisa dibilang kelurganya sedikit “berantakan.” Singkatnya, kalau aku yang ada di posisinya, aku belum tentu bisa kuat. Belum tentu juga masih punya nyali dan semangat untuk kerja atau apa pun itu. Orang tua (ayah dan ibu tiri) yang egois, kematian sang ibu yang belum terlupa, dan masih banyak lagi. Tapi Mbak D justru terlihat enjoy-enjoy saja, selain jadi guru di bimbel, ia juga punya bimbel sendiri di rumahnya, sambil memiliki beberapa bisnis kecil.

Lama tak berjumpa setelah itu, karena setelah aku ijin keluar (karena menyelesaikan kuliah) dan masuk lagi di bimbel itu, ia sudah tak bekerja di sana. Dan tak lama kemudian ia datang ke kantor dengan seragam PNS dan memberitahukan dengan bangga, bahwa ia mampu menggapai impiannya. Barangkali itu pertemuan terakhir, menyusul kabar tak enak bahwa ia sempat depresi dan dirawat di RSJ, dan hari ini aku mendapat kabar itu.

Memang tidak ada yang bisa menduga kematian seseorang, dan datang tanpa mempertimbangkan usia. Kadang seperti tiba juga begitu cepat kepada mereka yang baik. Tapi bagi yang menghadapinya, barangkali kematian hanya sekadar momen kebebasan bukan. Siapa tahu Tuhan menjemputnya supaya ia tak terlalu menderita cukup lama di dunia.

Aku pulang sore hari seperti biasa. Langit di luar terlihat mendung. Cuaca cukup gerah sampai malam ini. Hanya gerimis kecil melintas sesaat lalu usai dengan segera. Mestinya segalanya jadi terasa sejuk. Tetap saja, mud inilah yang sering kali jadi kendala. Mud benar-benar dapat mengubah warna hidupku. Rasanya aku ingin banyak diam seperti biasa.

Tugas Kantor yang Terbawa ke Rumah

Malam semakin tua dan aku berbaring dengan gelisah.

Pikiranku melayang pada pekerjaan. Hari ini aku dapat naskah yang nggak jelas. Penulisnya perempuan dan temanya mengenai rindu Rasul, hanya saja merasa risih sebab, pembahasaannya lebay, fokusnya pada perasaan rindu, dan seolah Rasulullah itu ‘cowok ganteng’-nya dan pernah kencan di alam mimpi dengan penggambaran yang ala ABG. Merindukan Rasul kupikir tidak hanya dengan kelemahan semacam itu, bukan dengan persepsi seolah bahwa Rasul itu objek, seorang pria dengan bentuk fisik tertentu sehingga menimbulkan kekaguman antara perempuan terhadap pria idolanya. Hm, susah dijelaskan.

Tapi begini. Mungkin akan lebih baik jika pembaca disuguhi fakta sejarah, biografi yang jelas sesuai dengan referensi akurat mengenai kerasulan beliau. Atau bukti bahwa beliau ada rasul beserta proses yang dijalaninya seumur hidupnya. Sayangnya penulis mantan anak pondok, dan aku bukan. Bila aku buat note berkenaaan dengan itu, maka apa referensi yang akan kutunjukan sebagai saran? Meski bukan anak pondok, tapi aku merasa, mencintai Rasul tidak perlu semenggebu itu, kita sebenarnya dapat menemukan keistimewaan sosok beliau meskipun tulisannya bertema sejarah.. asal akurat, dekat dengan kebenaran..dan menginspirasi tentunya.

Bagiku, penekanan dari mencintai rasul adalah menempatkan sosok beliau sebagai teladan bagi kita untuk menjadi agen Islam atau untuk lebih dekat dengan Allah dan hal-hal yang religius.. bukan agar membuat orang tahu bahwa penulis sedang merindui rasul dengan meratap-ratap. Memang, setiap muslim tentu berhak merindukan rasul, namun satu hal yang masih saja kuyakini, mencintai seorang junjungan adalah cinta yang penuh rasa hormat dan kemuliaan… bukan dengan sesuatu yang berdekatan dengan nafsu dan keinginan. Tapi entahlah, bagaimana pun juga ini hanya penilaian.

Bayangkan kita adalah jenis manusia gombal. Setiap hari kita membuat puisi untuk pacar, bahwa dia begitu ganteng/cantik, begitu baik.. Tapi sehari-hari, perilaku kita kepadanya kita nggak menunjukkan hal yang sama? Bukankah jika demikian lebih baik kita tidak usah banyak bicara dan sebaiknya perbanyak saja tindakan pembuktian?
Bahwa jika tindakan kita terinspirasi dari orang-orang yang kita cintai, itu benar…. Tapi bagaimana jika kita terlalu banyak mengatakan cinta dan rindu tapi tindakan kita jauh dari perilaku orang-orang tersebut? Bukankah tidak lebih dari gombal?

Sama gombalnya dengan kita menggunakan kekerasan atas nama membela agama dan rasul kita. Berteriak takbir tapi menganiaya makhluk ciptaan-Nya.. huft.

Tiba-tiba kepikiran, aku butuh referensi dan riset untuk sekedar menulis note yang biasa dikirim editor kepada para penulis, mengenai naskah yang dikirim ke penerbit. Aku pikir aku harus tahu bagaimana pondok menempatkan rasul, bagaimana makna sholawat bagi mereka, bagaimana sufi mencintai rasul, misteri mimpi mengenai rasul, bagaimana agama menempatkan rasul, bahkan aku juga akan membeli buku-buku ilmiah mengenai itu seperti karya Karen Armstrong.. tugas serasa masih begitu panjang.

Atau cuek saja, untuk yang satu ini aku sungguh rela namaku tidak dicantumkan di kolom editor bila buku tersebut jadi.. tapi bagaimana mungkin? Bisa-bisa aku dikisa lepas tanggung jawab.

Barangkali selain cobaan puasa, ini juga semacam gebrakan bagiku untuk tetap belajar… belajar lagi, dan belajar lagi. Bukankah ini kesempatan? Sudah lama aku berpikir untuk mempelajari sejarah dan biografi Rasul tapi belum juga terealisasikan. Nmaun, baiklah, tak mengapa karena aku percaya selalu ada hal baik yang bisa ditemukan.

Naskah

Berkenaan dengan naskah, aku mengalami hal aneh juga hari ini. Salah satunya adalah komplain penulis yang kebetulan naskahnya aku yang ngedit.. betapa apesnya. Aku dapat novel itu dulu dalam bentuk yang sangat kacau, amburadul, entah arahnya bagaimana. Kalimatnya pun belepotan. Banyak kalimat panjang yang dikondisikan menjadi paragraf. Semula aku tak yakin mengapa penerbit menerima naskah sedemikian menyalahi kaidah. Aku bahkan sudah melanggar ketentuan, seharusnya aku hanya edit aksara saat itu, tapi sampai harus memisah-misah paragraf menjadi beberapa kalimat supaya ceritanya logis. Semikonten. Eh, masih juga dikomplain kalau hasil editannya buruk.

Sudahlah.. kuanggap saja ini hanya keapesan, keapesan yang numpang lewat di saat pekerjaan ini serasa stagnan, bukannya seperti kerja kreatif, ini seperti kerja kuli.

Sebenarnya polanya begini. Jika penulis mengirim karya ke penerbit self publishing dengan fasilitas hanya edit aksara EYD, maka sebaiknya fiks-kan dulu konten serta konsepnya sebelum berada di tangan editor. Jika ke depannya masih mengira hasil editannya jelek sedangkan ketika diserahkan dulu bentuknya ambyar, maka sama saja penulis tersebut sedang menghina karyanya sendiri. Bagaimana tidak, editor ini hanya berfungsi sebagai pengamat aksara-EYD, itu saja. Nggak akan mengubah apa pun di sana kecuali beberapa diksi.

Kampus

Aku di Kampus tiga UAD malam ini. Semula yang tampak adalah sepi, kesendirian, lampu mati, renungan, mahasiswa baru campur alumni bertebaran, hanya satu dua kukenal selain adik-adik angkatan gamelan, lalu kenangan, kemudian lampu menyala, dan musik gamelan campur aliran band. Lalu pulang sendiri lagi.
Rupanya aku cukup kemalaman.

Dan entah bagaimana di jalan tadi, aku masih berpikir untuk tetap bertahan pada kondisi ini.
Sebab hidup juga memang begini, kadang naik dan turun… yang sering kali dibutuhkan adalah kekuatan..