rasionalisasi atas pengalaman kreatif: Afrizal Malna

Puisi seperti berusaha mencari korespondensi antara progresivitas Barat dengan keselarasan Timur.
Antara hamparan salju yang membeku dengan hempasan ombak di pantai-pantai tropis, lambaian pohon kelapa. Antara gereja-gereja gotik yang merepresentasi ketinggian ilahiah lewat tiang-tiang serta menaranya yang menghujam langit, dengan candi-candi yang tidak terlalu menciptakan hubungan kontras vertikalitas dengan horisontalitas bangunannya.

“Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata,
yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya.
Pada mulanya adalah kata.
Dan kata pertama adalah mantera.
Maka menulis puisi bagi saya
adalah mengembalikan kata kepada mantera.”

Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachri, 1973.