tawa dan sedihku

Hari ini suntuk menjalari duniaku tanpa ampun, seolah tidak cukup cuaca dingin seharian ini mencekik pori-pori tubuhku. banyak hal yang tak berhasil, banyak hal yang buntu, dan banyak hal yang menggantung penuh tanda tanya. hidup begitu membuatku sangat emosional hari ini, terlebih jika banyak target yang tak sempat tercapai. Pagi yang dingin hari ini harus kumulai dengan hati yang dingin, juga semangat yang ragu-ragu untuk tumbuh. dan siang adalah perasaan penat yang ingin meledak menjadi tangis.  Sungguh gelap sekali rasanya.

setidaknya aku berada di rumah, dengan keluarga yang menyayangiku.

Di antara gelap ini tentunya ada terang, salah satu muridku akhirnya mampu mendapat nilai seratus bulat di ulangan sekolahnya. ia tertawa dan tawa kebahagiaan memang menular sehingga aku pun lega (seperti belahan bumi yang baru kebagian terbit matahari), ia beringkrak-jingkrak karena saking senangnya dan menunjukkan padaku. namun ketika anak itu berterimakasih karena merasa nilai itu didapat karena les denganku sambil memeluk lenganku, aku lantas mengatakan: nilaimu bagus bukan karena mbak, tapi karena memang kamu pinter.  pertahanin ya. kamu bisa, kamu bisa lebih hebat dari yang sekarang!
sebab tak adil jika prestasi seorang anak diaku-aku sebagai hasil kerja keras orang lain, bukan karena kerja kerasnya sendiri, bukankah ulangan itu yang mengerjakan juga bukan aku? itu sebabnya penting bagi mereka, anak-anak kecil yang kebetulan butuh perhatian itu, untuk memilki harga dirinya sendiri. guru hanya bertugas menyampaikan ilmu dan memotivasi, murid berhak memilih jalannya sendiri.

Dan anak-anak ini adalah tolak belakang dari kondisi tugas administrasi yang membebaniku akhir-akhir ini. tugas administrasi yang rasanya justru tak membuatku maju dan berkembang.  Perusahaan kecilku ini memang seperti berjalan merangkak penuh pesimis. dan bermasa depan yang kurang jelas. Jika mengurusi administrasi membuatku pusing tujuh keliling dan selalu bikin drop mud, tapi murid-muridku adalah penyeimbangnya. Sehingga aku bersyukur tentang itu, bersama mereka aku bisa menjadi anak-anak untuk sekedar konyol, ketawa, bermuka lucu dan berbicara ala dunia mereka. dan aku bisa menjadi orang gila tanpa dikira gila karena yang lihat hanya murid2ku.  Sebab rupanya kegilaan guru yang ikut masuk dunia anak-anak membuat mereka lebih semangat belajar daripada yang bersikap menjaga jarak dan memperlihatkan batas strata antara guru dan siswa.

Hari ini setidaknya, aku mampu beristirahat tanpa hati yang mendongkol. Memang inilah risiko lajang, harus bekerja keras dan berani menghadapi hidup yang keras tanpa ada orang yang mendampingi di kala sendiri,,tanpa ada yang menyupport dari balakang sebagai suami, dan tanpa ada anak-anak lucu yang menungguku pulang dan minta gendong..

karena lajang berarti berjuang untuk diri sendiri, menjalani apapun masalahnya seorang diri dan pulang kerja untuk menyendiri.

sudahlah, daripada bermimpi jadi tidak lajang lagi,  sebaiknya ikuti kata motivasi Mahatma Gandhi:

“Menangislah, maka kau akan menangis sendiri. Tertawalah, maka dunia akan tertawa bersamamu”

yeah, itu sebabnya mengapa satu orang yang menemani menangis adalah yang paling berharga daripada seribu orang yang menemani tertawa…

😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s